BP2M dan Disparekraf Makassar Studi Banding di Banyuwangi

Anggiat Sinaga
Anggiat Sinaga

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Badan Promosi Pariwisata (BP2M) Makassar bersama rombongan salah satunya adalah Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Makassar mengikuti studi banding ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mulai dari tanggal 1 hingga 4 Desember 2016.

Disparekraf Makassar dl bersama rombongan bertemu langsung dengan para stake holder yang ada di Kabupaten Banyuwangi bertujuan untuk meminta masukan dalam pengembangan pariwisata lokal nantinya di Kota Daeng.

Untuk itu, Ketua BP2M Makassar Andi Ilhamsyah Mattalatta mengatakan, pihaknya memilih Banyuwangi karena kabupaten ini telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia. Bahkan kata Ilhamsyah, Kabupaten Banyuwangi mampu mensejajarkan diri dengan Bali dan Yogyakarta.

“Bupati Banyuwangi Abdullah Aswar Anas, sejak 2010 mengubah daerah itu secara total, dengan mengusung pariwisata sebagai sektor penggerak ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata Ilhamsyah Matalatta.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel Anggiat Sinaga menuturkan, pihaknya banyak mendapatkan masukan berharga dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Terutama kata Anggiat, Kepala Dinas Pariwisata setempat, Bramuda. Saat menjamu rombongan, Bramuda mengungkapkan sejumlah konsep pengelolaan destinasi wisata mereka.

“Kami terperangah ketika memaparkan 53 event pariwisata selama 2016. Itu artinya, setiap pekan ada event,” ujar Anggiat dalam rilisnya, Senin, (05/12/2016).

Lebih lanjutnya, Anggiat mengatakan, yang hebat dari pelaksanaan event pariwisata Banyuwangi adalah semua tanpa melibatkan pihak ketiga atau event organizer (EO). Melainkan kata dia, para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Dalam penyusunan anggaran pun, para SKPD secara kreatif menyiapkan dana untuk membantu event dan festival sekaligus melibatkan masyarakat untuk mengelolanya.

“Inilah yang unik, memberi perbedaan dengan daerah lainnya bahwa seluruh SKPD memiliki pemahaman yang sama dan dikerjakan secara bersama dengan satu tujuan demi kemajuan pariwisata Banyuwangi,” ujar Anggiat.

Anggiat menjelaskan, pelajaran terpenting dari Banyuwangi adalah pemerintah setempat mampu melakukan inovasi kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan. Mereka melibatkan semua stakeholder dan SKPD dalam membangun pariwisata tanpa ego sektoral masing-masing. Adapun Dinas Pariwisata bertindak sebagai fasilitator.

“Bahkan semua birokrat piawai menjadi sales dan pemandu pariwisata Banyuwangi,” kata dia.

Dari hasil kunjungan diketahui, arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Banyuwangi meningkat pesat setiap tahun. Pada tahun 2010 jumlahnya hanya sekitar 7 ribu, hingga mencapai 35 ribu di tahun 2015. Dengan kata lain naik 500 persen.

“Pada tahun 2016 ditargetkan akan masuk wisatawan mancanegara 50 ribu orang dan wisatawan nusantara 2 juta orang, Rasanya patut untuk belajar dengan Banyuwangi agar pariwisata Indonesia bisa jauh lebih baik,” Anggiat melanjutkan.(*)


Comment