MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Dosen Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Adi Suryadi Culla mengkhawatirkan adanya potensi konflik horisontal berskala besar di Pilpres 17 April mendatang.
Menurutnya, potensi konflik akan muncul jika selisih suara antara dua capres yang bertarung hanya terpaut tipis. Terlebih jika petahana menjadi pihak yang kalah.
“Kalau mau ada jaminan Pilpres itu aman maka harus ada yang menang telak. Kalau hanya menang tipis, potensi konflik cukup besar. Apalagi kalau incumbent yang kalah dan perbedaannya tipis. Jangankan incumbent, dalam banyak kasus, penantang pun tidak mau kalah,” kata Adi dalam diskusi publik dengan tema “Meneropong Prospek Politik dan Ekonomi 2019”, Minggu (13/1/2019).
Potensi konflik menjadi momok sebab pola kampanye dua kandidat pilpres sedang mengarah ke provokasi konflik horizontal. Hal itu terlihat dari pilihan diksi yang digunakan para capres.
Kata dia, diksi-diksi yang berkonotasi negatif itu diperparah oleh loyalitas kebablasan para pendukung sehingga lahir istilah Cebong dan Kampret.
“Kondisi seperti ini diperparah dengan melubernya berita-berita hoax. Sehingga satu-satunya jalan menutup celah konflik adalah harus ada pihak yang meneng di atas 60 persen,” katanya.
“Sehingga ruang gugatan dan tuntutan terhadap suara yang kalah itu tertutup oleh legalitas suara rakyat,” tambahnya.
Namun, kata Adi, kemenangan telak itu juga akan tetap melahirkan potensi konflik bila metode kampanye pihak pemenang melanggar aturan yang berlaku.
“Karenanya peran penting KPU dan Bawaslu juga diuji integritasnya dalam pilpres tahun ini agar kemenangan itu tanpa kecurangan. Jangan sampai pakta integritas siap menang siap kalah itu hanya jadi lip service belaka,” imbuhnya. (*)
Comment