MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Lima nelayan Gurita Kota Makassar dari Pulau Langkai dan Pulau Lanjukang yang didampingi tim Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia belajar tata kelola gurita di Desa Darawa, Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Senin-Sabtu, 8-13/11/2021.
Para nelayan melakukan kunjungan belajar di wilayah dampingan Forum Kahedupa Toudani (Forkani) di Desa Darawa, Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi. Mereka belajar aspek tata kelola gurita berbasis masyarakat adat.
Demikian disampaikan Field Facilitator YKL Indonesia, Muhammad Fauzi Rafiq yang turut mendampingi, Sabtu (13/11/2021). Kunjungan belajar ini bagian dari pelaksanaan Program Peningkatan Ekonomi dan Konservasi Gurita Berbasis Masyarakat (Proteksi Gama) yang difasilitasi YKL Indonesia atas dukungan Critical Ecosystem Parternship Found (CEPF) dan Burung Indonesia.
“Tujuan kunjungan belajar ini untuk mengetahui isu, permasalahan, serta berbagi informasi yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya gurita berbasis masyarakat dari di Pulau Kaledupa,” ujar Fauzi.
“Meningkatkan pengetahuan, bertukar ide, dan mempelajari proses yang bisa diadaptasi ataupun menjadi acuan pembelajaran dalam proses pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat di Pulau Langkai dan Pulau Lanjukang,” lanjut Fauzi.
Fauzi berharap, kunjungan belajar ini memperkaya referensi strategi dan bentuk-bentuk pengelolaan gurita, tantangan dan peluang, serta solusi yang muncul dalam pengelolaan perikanan gurita sebagai bahan belajar dalam penyusunan tata kelola gurita berbasis masyarakat di Pulau Langkai dan Pulau Lanjukang.
Ahmad Syarif Nelayan dari Pulau Langkai menyampaikan sejumlah materi pembelajaran yang diterima terkait pengalaman pengelolaan perikanan gurita di Derawa.
Dari pembelajaran ini diketahui sejarah pengelolaan, proses, regulasi atau pengaturan pemanfaatan sumber daya gurita secara ramah lingkungan, serta perubahan dan dampak yang yang dirasakan masyarakat.
“Sistem buka tutup penangkapan gurita yang dilakukan membuat masyarakat merasakan hasil yang positif. Sehingga kami nelayan berharap ini juga bisa dilakukan di pulau kami. Semoga nelayan Pulau Langkai dan Pulau Lanjukang turut mendukung apa yang kami pelajari di Wakatobi,” ujar Ahmad Syarif.
Hal senada disampaikan Anas, nelayan Pulau Lanjukang. Kata dia, banyak pembelajaran yang didapatkan terkait bagaimana masyarakat nelayan di daerah tersebut menginisiasi proses, strategi, menyusun dan membangun komitmen, serta menetapkan dan memberlakukan aturan buka tutp berbasis masyarakat dalam pemanfaatan gurita.
“Nelayan darawa banyak memberikan kami cerita bagaimana awalnya dilakukan buka tutup dan hasilnya. Nelayan mendapatkan gurita yang besar-besar, ada yang dua kilo sampai tiga kilo setelah dibuka,” ujar Anas.
Comment