Andi Muhammad Bau Sawa Ajak Masyarakat Mengembalikan Marwah Sulsel

Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki. Foto : Ist

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM — Mayor Jenderal TNI (Purn) Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, dikenal sebagai sosok yang religius dan santun. Dalam beberapa kesempatan, eks Pangdam XIV Hasanuddin ini selalu berbicara soal marwah Sulawesi Selatan.

Menurutnya, marwah atau dalam dalam istilah agama disebut Muru’ah sangat penting untuk dijaga. Sebab, hal ini menyangkut tentang harga diri serta harkat dan martabat.


Di dalam agama, khususnya Islam, seseorang tidak diperbolehkan saling merendahkan satu sama lain, karena perilaku tersebut telah merendahkan harkat.

Mengapa ini sangat perlu dijaga, sebab merupakan salah satu akhlak yang dapat mengantarkan seseorang untuk memiliki jiwa yang bersih dan tidak terkungkung dan di perbudak oleh nafsu syahwatnya, karena karakter seorang muslim mempunyai cita cita (himmah) yang tinggi dan sangat tidak suka pada sesuatu yang buruk, rendah dan hina.

“Agama mengajarkan kepada manusia untuk menghindarikan diri dari sifat kehinaan kepada diri sendiri,” ujar Andi Muhammad di Makassar, baru – baru ini.

Membahas Sulsel, tentunya daerah ini memiliki suku, budaya dan agama yang beragam. Tidak mudah menjaga keutuhan di provinsi ini di tengah gempuran era teknologi yang terkadang disalah gunakan oknum tertentu untuk memecah belah persatuan dan keharmonisan masyarakat Sulsel.

Olehnya itu, kata Andi Muhammad, diperlukan aksi – aksi nyata di tengah masyarakat agar marwah Sulsel yang notabene dihormati dan dihargai, bisa terus terjaga demi kemajuan daerah.

“Untuk kemajuan Sulsel dan masyarakatnya saya tidak main – main. Saya ingin mengembalikan sekaligus terus menjaganya hingga akhir hayat. Saya serius dalam hal ini, ” tegas cucu dari Raja Bone ke-32, Andi Mappanyukki ini.

Tidak hanya itu, dirinya juga sedih dengan kepungan skandal korupsi, mewabahnya kasus intoleransi dan ujaran kebencian yang belakangan marak terjadi.

Tentu hal ini menggugah keprihatinan bersama mengapa persoalan-persoalan ini bisa terjadi. Padahal, Sulsel dulunya dikenal dengan nilai-nilai luhur kesantunan, kejujuran, ramah dan toleran yang kian lama ternyata mengalami gejala memudar dan luntur.

Belum lagi aksi aktor-aktor politik cenderung makin berani memperlihatkan intrik, manuver dan kongsi secara kasat mata. Bukan semakin malu, sebaliknya, publik menjadi saksi bagaimana ‘akrobat” politik secara vulgar sengaja dipertontonkan.

Kondisi ini diperparah dengan mewabahnya pengarusutamaan info-info sampah (fake news) yang memenggal nalarsehat dan mengikis ingatan sosial. Hingga pada taraf tertentu, berita hoaks muncul bersliweran serupa dengungansemu yang menambah riuh labirin kesimpangsiuran.

“Inilah semua yang ingin saya benahi ke depan. Tujuannya, tidak lain agar Sulsel kembali ke marwahnya,”pungkasnya. (*)

Comment