BONE, BERITA-SULSEL.COM – Eksis sejak tahun 1970an, Pabrik Gula Arasoe Kabupaten Bone mampu menghasilkan gula kristal putih terbaik hingga 19 ribu ton setiap kali panen. Ditemui di ruangannya, Kamis (15/12/22) pagi, Manager Kebun PT Perkebunan Nusantara IV, Dahlan, mengungkap tahun ini produksi agak menurun.
“Biasanya 60 ton perhari, cuma tahun ini agak menurun, hanya 30 ton perhari. Tapi itu biasa, kadang sangat rugi, kadang juga untung sekali”, ungkap Dahlan.
PGB Arasoe saat ini mempekerjakan 250 orang karyawan termasuk tenaga honorer. Sedangkan untuk buruh penebangan menggunakan tenaga hingga lebih dari 3000 orang. Buruh pemeliharaan sebanyak 1000 orang yang digaji perton tebu. Sistem penebangan tebu masih manual dan buruh perempuan juga banyak mengambil peran.
Gula yang dihasilkan kemudian dikemas dalam karung dan diberi merk Walini. Sementara untuk kemasan 1 kilogram, diberi merk Gollata menggunakan kemasan dari Pabrik Gula Takalar. Dahlan meyakinkan bahwa gula kristal putih merk Gollata, jauh lebih manis dibanding gula merk lain.
“Kalau perbandingannya, gula rafinasi 3 sendok, Gallata hanya 1 sendok, itu sudah manis”, ujarnya.
Gula rafinasi sendiri menurut Dahlan banyak disukai konsumen dari kalangan ibu rumah tangga karena butirannya yang besar dan warna putih cerah. Namun rupanya tak disarankan oleh BPOM karena rafinasi jenis gula yang belum sempurna prosesnya, sehingga tidak baik untuk di konsumsi langsung, kecuali diolah kembali jadi kue atau masakan.
“Kalau sudah lama, semua gula itu pasti akan berubah warna jadi agak coklat tapi rasa tidak berubah. Gula itu tidak gunakan pengawet dan tidak ada batas kadaluwarsanya”, lanjutnya.
Saat ini, Gollata dipasarkan di area Makassar dan Bone. Meskipun gula impor menggempur dan menjatuhkan harga gula lokal di pasaran, Dahlan optimis Gollata tetap disukai konsumen sehingga mampu bertahan. (eka)
Comment