MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM — Sepuluh masyarakat dari Pulau Bonetambu yang terdiri dari nelayan, pengumpul dan tokoh masyarakat melakukan kunjungan belajar ke Pulau Langkai dan Lanjukang Kota Makassar, dua pulau yang dikenal sebagai pelopor sistem pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat di Kepulauan Spermonde.
Kegiatan yang berlangsung pada 24–26 Juli 2025 ini merupakan bagian dari program Proteksi GAMA (Penguatan Ekonomi dan Konservasi Gurita Berbasis Masyarakat) yang diinisiasi oleh Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dengan dukungan Burung Indonesia.
Dalam kunjungan ini, para nelayan Bonetambu berdiskusi langsung dengan Forum Pasibuntuluki, kelompok pengelola lokal yang telah sukses menerapkan sistem buka-tutup zona tangkap gurita sejak 2021. Sistem ini tidak hanya membantu memulihkan habitat laut dan meningkatkan hasil tangkapan, tapi juga menjadi bukti bahwa pengelolaan wilayah laut yang partisipatif bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami datang untuk belajar langsung. Bagaimana cara menentukan lokasi penutupan, menghadapi penolakan, hingga melibatkan perempuan dan pemuda dalam pengawasan,” ujar Darmawati salah satu peserta kunjungan yang juga Pengumpul di Pulau Bonetambu. Ia juga mengapresiasi peran perempuan di Langkai-Lanjukang yang aktif mendukung kegiatan patroli hingga mengolah hasil tangkapan menjadi sambel gurita dan abon ikan.

Salah satu sesi yang menarik adalah kunjungan ke zona tangkap yang sedang ditutup, di mana peserta menyaksikan langsung bagaimana nelayan Langkai dan Lanjukang menjaga kawasan secara kolektif. Ketua Forum Pasibuntuluki, Erwin, menjelaskan bahwa sistem buka-tutup dilakukan tiga bulanan. “Dampaknya tidak langsung terasa di awal, tapi sekarang hasil gurita lebih besar, ikan makin banyak, dan karang sehat kembali,” ujarnya.
Menurut peserta lain, Sukri, pembelajaran yang paling penting adalah bagaimana membangun kepercayaan dan komitmen bersama antarwarga. “Awalnya banyak yang menolak, bahkan dari keluarga sendiri. Tapi mereka sabar, terus beri pemahaman, sampai akhirnya semua ikut menjaga laut,” katanya.
Kegiatan ini juga diisi dengan diskusi reflektif, pengisian pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman, serta penyusunan rencana awal penerapan sistem serupa di Pulau Bonetambu. Beberapa ide yang muncul termasuk pembentukan kelompok pengelola, pencatatan hasil tangkapan, hingga pemasangan pelampung sebagai tanda zona larangan tangkap.
Muhammad Fauzi Rafiq, Koordinator Pemberdayaan & Advokasi YKL Indonesia yang mendampingi kunjungan ini, menegaskan pentingnya pendekatan partisipatif dalam proses belajar antar komunitas. “Kegiatan ini memberi ruang bagi nelayan untuk bertukar pengalaman dan merefleksikan strategi yang bisa diadaptasi sesuai kondisi lokal. Ini bukan sekadar kunjungan, tapi proses membangun kesadaran kolektif,” ujar Fauzi.
Langkah selanjutnya adalah mendampingi nelayan Bonetambu dalam menerapkan model yang sesuai dengan konteks lokal, termasuk pelibatan pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, dan dinas terkait. Diharapkan, semangat dari Langkai dan Lanjukang bisa menular dan menjalar ke seluruh wilayah di Kepulauan Spermonde.
Comment