MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Tim mahasiswa dari Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) berhasil mengembangkan dan menyelenggarakan program intervensi berbasis mindfulness yang dirancang khusus untuk mengurangi dependency on AI (ketergantungan terhadap AI) di kalangan mahasiswa.
Tim yang menamakan diri AI-Ware ini, merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial-Humaniora. Dipimpin oleh Melisa Tandiari, bersama Salsyahrani Qurana R, We Tenri Dio, Girbsan Ananta Patabang, dan Eno Zakira Anisa, program ini berangkat dari keprihatinan atas tingginya penggunaan AI oleh mahasiswa untuk menyelesaikan tugas akademik yang kompleks.
Modul intervensi yang dikembangkan memadukan prinsip mindfulness dengan edukasi penggunaan teknologi secara sehat dan sadar. Tujuannya adalah membantu mahasiswa memposisikan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir kritis atau motivasi belajar.
“Banyak mahasiswa saat ini bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas tanpa benar-benar memahami materi. Kami ingin mengintervensi cara berpikir itu, bukan dengan melarang, tapi dengan mengajak kembali pada kesadaran,” ujar Melisa Tandiari, Ketua Tim AI-Ware.
Program intervensi ini terdiri dari enam sesi. Tiga sesi pertama berfokus pada penyadaran inderawi, seperti Mindful Breath, Body Sensations, dan Compassionate Body Scan, yang bertujuan agar peserta lebih ‘hadir’ pada pengalaman tubuh sebagai dasar kesadaran.
Sementara itu, tiga sesi lanjutan, yaitu The AI Waves, The Safe Space, dan Wanting Release, dirancang untuk mengeksplorasi hubungan emosional dan psikologis partisipan dengan AI. Mahasiswa diajak mengenali pola pikir, dorongan impulsif, dan kecemasan yang muncul terkait penggunaan teknologi tersebut.
“Melalui sesi The AI Waves, kami meminta peserta memvisualisasikan ‘gelombang pikiran’ yang mendorong mereka membuka AI saat merasa tidak mampu. Kami mengajak mereka mengamati dan memahami dorongan yang muncul,” jelas Melisa.
Hasil intervensi menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan. Catatan harian partisipan mencerminkan bahwa meditasi mindfulness membantu mereka menyadari kebiasaan menggunakan AI secara otomatis.
Seorang partisipan dengan inisial N, menulis, “Setelah sesi selesai, saya menyadari bahwa saya membuka ChatGPT setiap kali merasa cemas tidak bisa menjawab soal. Sekarang saya belajar untuk memberi jeda, mencoba secara mandiri mengerjakan tugas, lalu pakai AI jika benar-benar butuh saja.”
Tim AI-Ware menegaskan bahwa program ini tidak anti-AI. Sebaliknya, mereka ingin mendorong penggunaan AI secara bijak dan beretika, serta menumbuhkan kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti kapasitas intelektual mahasiswa.
“Kita tidak bisa lepas dari AI, tapi kita bisa belajar menggunakannya dengan sadar,” tutup perwakilan Tim AI-Ware.
Comment