Sejarah Hari Jadi Sulsel ke-356 Dibacakan di Rapat Paripurna

Sejarah Hari Jadi Sulsel ke-356 Dibacakan di Rapat Paripurna

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Jufri Rahman, didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sulsel, menghadiri Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulsel.

Rapat ini digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Sulawesi Selatan ke-356 di Ruang Pola Kantor Gubernur, Minggu (19/10/2025).

Sekda Sulsel, yang tampil gagah dengan setelan adat Bugis-Makassar berupa jas tutup coklat beraksen emas, Songkok Recca, dan sarung khas, menjadi pembaca sejarah singkat lahirnya Hari Jadi Sulawesi Selatan. Kehadiran jajaran Pemprov dan DPRD Sulsel ini menandai puncak peringatan tahun ini yang mengusung tema “Sulawesi Selatan Maju dan Berkarakter.”

Dalam kesempatan tersebut, Jufri Rahman memaparkan bahwa gagasan Hari Jadi Sulawesi Selatan pertama kali digagas oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, H.Z.B. Palaguna, pada Tahun 1993. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kecintaan dan kebanggaan masyarakat terhadap jati diri dalam rangka persatuan dan kesatuan untuk melanjutkan pembangunan nasional.

Gagasan ini berawal dari seminar Tudang Sipulung pada 18–19 Juli 1995. Tudang Sipulung, istilah dalam budaya Bugis-Makassar yang berarti “duduk bersama untuk bermusyawarah,” menekankan nilai deliberatif dalam pengambilan keputusan. Forum ini dihadiri para cendekiawan, tokoh masyarakat, pinisepuh, pimpinan daerah, hingga organisasi pemuda se-Sulsel.

“Pembahasan secara mendalam dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah bersama staf, sesuai usulan dan momentum puncak kejayaan peristiwa di Sulawesi Selatan dimaknai memiliki bobot nilai yang sama. Maka simpulan yang dihasilkan adalah dipandang perlu memadukan atau menggabungkan rumusan yang ada dalam sebuah rumusan yang bermakna simbolik yaitu tanggal 19 bulan Oktober Tahun 1669,” tutur Sekda.

Rumusan tersebut kemudian disahkan menjadi dasar hukum melalui Peraturan Daerah (Perda) Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 1995, yang menetapkan 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi Provinsi Sulawesi Selatan.

Jufri Rahman juga menjelaskan makna filosofis di balik penetapan tanggal tersebut:

  • Tanggal 19 melambangkan kesadaran Sulsel sebagai bagian tak terpisahkan dari NKRI, merujuk pada rapat PPKI tanggal 19 Agustus 1945.
  • Bulan Oktober dipilih karena menyimpan dua momentum penting: dukungan para Raja Sulsel kepada Dr. Ratulangi (15 Oktober 1945) dan peristiwa rekonsiliasi Raja-Raja bersaudara usai Perang Makassar (Oktober 1674).
  • Tahun 1669 menandai berakhirnya Perang Makassar, yang merupakan simbol heroisme dan keteguhan rakyat dalam mempertahankan kedaulatan.

“Pilihan tahun yang bersejarah itu juga dimaksudkan menggugah hati nurani masyarakat Sulawesi Selatan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya perpecahan, menjaga kebersamaan, serta mengembangkan persatuan demi kelanjutan pembangunan menuju masyarakat sejahtera dan cinta tanah air,” tutup Sekda.


Comment