Diterjang Air Bah, Bupati Maros Gagal Resmikan Sekolah Kolong di Pelosok Tompobulu

Diterjang Air Bah, Bupati Maros Gagal Resmikan Sekolah Kolong di Pelosok Tompobulu

MAROS, BERITA-SULSEL.COM – Niat mulia Bupati Maros, Chaidir Syam, untuk meresmikan langsung “Sekolah Kolong” di Dusun Bara, Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu, harus terhalang faktor alam. Akses menuju lokasi terpencil tersebut terputus akibat terjangan air bah setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Sabtu (3/1/2026) sore.

Dusun Bara dikenal sebagai salah satu wilayah paling terisolasi di Kabupaten Maros. Untuk mencapai lokasi, rombongan Bupati awalnya menggunakan sepeda motor trail. Namun, karena medan yang sangat terjal dan licin, Chaidir beserta rombongan terpaksa berjalan kaki sejauh 3 kilometer menembus hutan.

“Kami sangat ingin meresmikan sekolah itu dan bertemu masyarakat. Tapi air bah datang tiba-tiba dan memutus akses jalan,” ujar Chaidir kepada awak media, Minggu (4/1/2026).

Chaidir menceritakan bahwa kondisi jalur menuju Dusun Bara sangat berisiko. Selain curam dan berbatu, hujan deras membuat tanah menjadi sangat licin. Demi keselamatan rombongan, perjalanan terpaksa dihentikan tepat di titik air bah memutus jalan.

“Jalurnya sangat licin dan ngeri kalau jatuh. Alhamdulillah, meski gagal sampai ke titik peresmian, semua anggota rombongan aman,” tambahnya.

Peresmian Tetap Berjalan di Tengah Keterbatasan

Meski Bupati tidak bisa mencapai lokasi, prosesi peresmian tidak sepenuhnya batal. Di seberang aliran air bah yang memutus jalan, Chaidir sempat berkomunikasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Maros, Andi Wandi Patabai, yang sudah lebih dulu tiba di lokasi.

Bupati kemudian menginstruksikan jajaran Dinas Pendidikan untuk mewakilinya meresmikan sekolah tersebut agar manfaatnya segera dirasakan oleh anak-anak Dusun Bara.

Sekolah kolong ini merupakan kelas jauh dari SD Inpres 238 Bonto Parang. Dengan anggaran pembangunan sebesar Rp300 juta, sekolah ini memiliki dua ruang kelas yang pembangunannya penuh perjuangan. Seluruh material bangunan harus diangkut secara manual oleh warga melewati jalur ekstrem.

“Proyek ini tidak main-main. Masyarakat bergotong royong membawa material secara manual ke lokasi. Ini adalah bukti semangat warga untuk pendidikan,” jelas Chaidir.

Komitmen Pemerataan Pendidikan

Ketua Komisi III DPRD Maros, Haeriah Rahman, yang turut serta dalam rombongan, memberikan apresiasi atas kegigihan pemerintah daerah. Menurutnya, upaya Bupati menembus medan berat adalah bentuk komitmen nyata dalam pemerataan pendidikan hingga ke pelosok.

“Pemerintah ingin memastikan pendidikan dirasakan semua kalangan, termasuk anak-anak di daerah terpencil. Saya lihat langsung bagaimana semangat Pak Bupati meski harus jalan kaki di medan berat,” kata Haeriah.

Ia juga menekankan bahwa setelah infrastruktur fisik terbangun, fokus selanjutnya adalah memastikan kualitas tenaga pendidik. “Kami di legislatif akan terus mendorong peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Maros,” pungkasnya.


Comment