Atasi Bencana El Nino, Pemkab Maros Geber Penyaluran Air Bersih untuk 6.738 KK Terdampak Kekeringan

Atasi Bencana El Nino, Pemkab Maros Geber Penyaluran Air Bersih untuk 6.738 KK Terdampak Kekeringan

MAROS, BERITA-SULSEL.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros bergerak cepat menanggulangi krisis air bersih akibat musim kemarau panjang dan dampak fenomena El Nino. Bupati Maros, AS Chaidir Syam, melepas langsung belasan armada tangki air bersih di Lapangan Pallantikang untuk menyasar warga terdampak di berbagai wilayah.

Penyaluran bantuan air bersih ini menyasar sedikitnya 6.738 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di delapan kecamatan. Pemkab Maros mengerahkan sedikitnya 16 mobil tangki berkapasitas 5.000 liter saban hari guna memenuhi kebutuhan dasar warga secara bergilir.

“Alhamdulillah, kami menyalurkan bantuan air bersih untuk membantu masyarakat yang terdampak fenomena El Nino. Setiap armada akan mendistribusikan air hingga empat kali perjalanan dalam sehari,” ungkap Chaidir Syam saat memimpin pelepasan armada.

Pemerintah daerah mengelompokkan wilayah terdampak menjadi dua zonasi utama demi menjamin kelancaran dan ketepatan distribusi. Pemkab Maros menetapkan empat kecamatan dalam status zona merah, yakni Bontoa, Lau, Maros Baru, dan Marusu. Sementara itu, empat kecamatan lainnya masuk dalam zona kuning, meliputi Turikale, Moncongloe, Tanralili, serta Mandai.

Langkah pemetaan ini memprioritaskan penanganan di wilayah yang mengalami krisis air paling parah. Di beberapa titik zona merah, sebagian warga bahkan terpaksa merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah untuk membeli air atau terpaksa mengandalkan sumur tadah hujan yang mulai keruh.

Untuk menopang operasional distribusi ini, Pemkab Maros telah mengalokasikan anggaran awal sebesar Rp600 juta melalui dana Belanja Tidak Terduga (BTT). Chaidir menegaskan bahwa pihaknya siap menambah alokasi dana tersebut jika musim kemarau berlangsung lebih lama hingga Oktober mendatang.

Selain fokus memenuhi pasokan air bersih bagi rumah tangga, Pemkab Maros juga melakukan langkah antisipasi pada sektor pertanian dan lingkungan. Pemerintah daerah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Kekeringan guna mendata potensi gagal panen (puso) di kawasan persawahan.

Di samping itu, Dinas Pemadam Kebakaran menyiagakan armada khusus setiap hari untuk membasahi kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) guna mencegah timbulnya titik api akibat cuaca panas ekstrem.

“Kami berkolaborasi lintas sektor agar penyaluran air bersih ini berjalan maksimal dan tepat sasaran. Selama kondisi belum kembali normal, armada kami akan terus bergerak menyisir pemukiman warga,” tegas Chaidir.


Comment