BONE, BERITA-SULSEL.COM – Masih lekang dalam ingatan rumah panggung berdiri kokoh meski termakan usia dengan pahatan-pahatan unik khas bugis di setiap kayunya. Bola Soba (rumah persahabatan), salah satu ikon Kabupaten Bone dengan sejarah panjang yang mengiringi eksistensi Bone di masa kerajaan.
Bangunan yang terletak di Jalan Latenritatta, Watampone, ini merupakan replika dari rumah Kerajaan Bone yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-30, La Pawawoi Karaeng Sigeri sekitar tahun 1890.
Dikutip dari laman resmi pemerintah Kabupaten Bone, lokasi awal Bola Soba berada di Jalan Petta Ponggawae yang kini menjadi lokasi rumah jabatan Bupati Bone. Kemudian sempat dipindahkan ke Jalan Veteran Bone, selanjutnya dibangun di Jalan Latenritatta pada tahun 1978 yang peresmiannya dilakukan pada 14 April 1982 oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) saat itu, Prof Dr Daoed Joesoef.
Sekitar tahun 1912, Saoraja Petta Ponggawae kemudian jatuh ke tangan Belanda dan dijadikan sebagai markas tentara. Di masa penguasaan Belanda ini, saoraja kemudian difungsikan sebagai mes atau penginapan untuk menjamu tamu Belanda. Dari sini kemudian saoraja ini juga dikenal dengan nama Bola Soba’, yang berarti rumah persahabatan.
Bola Soba’ juga pernah difungsikan sebagai istana sementara Raja Bone pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31, La Mappanyukki pada tahun 1931, menjadi markas Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS), menjadi asrama TNI pada tahun 1957, hingga kemudian dijadikan sebagai bangunan peninggalan purbakala.
Sebagai replika rumah Raja Bone dan bangunan peninggalan sejarah, bangunan Bola Soba didesain untuk mendekati bangunan aslinya meskipun berbeda bahan dan ukuran.
Bola Soba memiliki panjang 39,45 meter yang dari empat bagian utama, yakni lego-lego (teras) sepanjang 5 meter, rumah induk sepanjang 21 meter, lari-larian/selasar penghubung rumah induk dengan bagian belakang sepanjang 8,5 meter serta bagian belakang yang diperuntukkan sebagai ruang dapur 4,3 meter.
Sayangnya, Bola Soba yang menjadi salah satu kebanggaan warga Bone ludes terbakar pada Sabtu (20/3/21), dini hari menjelang peringatan Hari Jadi Bone ke-691 yang jatuh pada 6 April.
Selain Bola Soba, sebuah rumah adat juga berdiri kokoh tepat disampingnya. Bola Ade’e, yang menurut kepercayaan memiliki 99 tiang dan kerap dijadikan lokasi ritual keagamaan oleh orang Bone dan luar Kabupaten Bone.
Nurul Yaqin, mengaku pernah tinggal selama puluhan tahun di Bola Ade’e bersama keluarga tercinta. Nurul meninggalkan rumah adat tersebut setelah kedua orangtuanya meninggal dunia, sekitar tahun 2017 lalu. Melihat Bola Soba dan Bola Ade’e yang kini rata dengan tanah, menyisakan rasa sesak serta kesedihan mendalam bagi Nurul.
“Banyak kenangan disana (bola ade’e, red). Dulu banyak orang datang bawa kambing, ayam, disembelih disana, biasanya dari luar Bone. Orang bilang tiangnya 99, tapi kadang juga yang hitung bilang tidak sampai 99, pokoknya rumah itu unik, semua bahan yang digunakan pas, papannya, baloknya, pas”, kenangnya.
Tidak diketahui pasti, kemana sisa bangunan Bola Ade’e yang kini telah dibongkar dan ikut rata dengan tanah. Pemerintah sendiri pernah menganggarkan bangunan pengganti Bola Soba yang berlokasi di Watang Palakka.
Namun, berbagai drama dan kontroversi membuat segala rencana pembangunan tersebut tak berjalan lancar. Kini, ditengah riuhnya acara Gau Maraja untuk membangkitkan kembali adat serta budaya Bone yang digelar selama sepekan, Bola Soba dan Bola Ade’e, justru menyimpan sepi dan menyisakan puing kenangan.
Comment