JAKARTA, BERITA-SULSEL.COM — Bupati Maros, AS Chaidir Syam, memaparkan keberhasilan inovasi Sipakatau dalam meningkatkan penemuan kasus tuberkulosis (TB) di Kabupaten Maros. Ia menyampaikan capaian tersebut saat menghadiri ajang penghargaan Tribun Network di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Pada kesempatan itu, Chaidir menegaskan bahwa pemerintah daerah terus mendorong lahirnya inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya di sektor kesehatan.
“Kita berharap kerja-kerja pemerintah bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat. Itu merupakan kerja penting yang harus dilakukan,” ujarnya.
Mantan Ketua DPRD Maros ini menjelaskan, tingginya jumlah penderita dan suspek TB memicu Pemerintah Kabupaten Maros bersama Dinas Kesehatan untuk melahirkan inovasi Sipakatau. Program ini merupakan akronim dari Strategi Akselerasi Pencegahan dan Penanganan Tuberkulosis di Kabupaten Maros.
Selain sebagai solusi lokal, program tersebut juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap program prioritas nasional di bidang kesehatan yang dicanangkan Presiden RI.
Untuk memperkuat gerakan ini, Pemkab Maros telah menerbitkan Peraturan Bupati pada tahun 2025 sebagai landasan strategi. Selanjutnya, pemerintah juga mengukuhkan Duta Sipakatau yang melibatkan pelajar SMA di 14 kecamatan serta 103 desa dan kelurahan.
“Kita libatkan stakeholder, termasuk remaja-remaja di 14 kecamatan dan 103 desa. Kemudian lahir peraturan desa yang mendukung strategi penanganan TB di masing-masing wilayah,” kata Chaidir.
Lebih lanjut, Chaidir menjelaskan bahwa pemerintah juga mengoptimalkan peran kader posyandu. Pihaknya membangun kolaborasi lintas sektor mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa untuk menemukan lebih banyak suspek TB.
Upaya keras tersebut akhirnya membuahkan hasil yang signifikan. Jika angka temuan suspek TB pada periode 2022 hingga 2024 hanya berada di kisaran 30 persen, kini angka tersebut melonjak menjadi 47,65 persen.
“Alhamdulillah dengan strategi ini sampai sekarang sudah kita temukan 47,65 persen. Kita berharap sampai akhir tahun bisa mencapai 90 persen bahkan 100 persen sehingga penanganan dan penyembuhan masyarakat bisa kita kawal,” harapnya.
Meski program Sipakatau telah berjalan efektif selama hampir dua tahun, Chaidir mengakui tantangan terbesar justru berasal dari stigma masyarakat. Banyak warga enggan memeriksakan diri karena merasa malu atau menganggap gejala tersebut hanya batuk biasa.
Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menghadirkan layanan khusus bagi masyarakat yang mengalami gejala batuk agar mereka merasa lebih nyaman.
“Kita buat pojok tersendiri sehingga mereka tidak malu. Privasi pasien tetap terjaga karena hanya dokter, perawat, dan pasien yang mengetahui kondisi tersebut,” tuturnya.
Di samping sektor kesehatan, Chaidir menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Maros tetap memberikan perhatian besar pada sektor pendidikan.
Baginya, dua sektor ini menjadi prioritas utama dalam pengalokasian anggaran daerah. Walaupun demikian, pemerintah daerah dipastikan tidak mengabaikan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan.
“Kita terus berupaya menjaga kesehatan dan pendidikan di Maros. Karena itu anggaran pada kedua sektor tersebut cukup besar, namun pembangunan infrastruktur prioritas tetap berjalan,” pungkas Chaidir.
Comment