
BONE, BERITA-SULSEL.COM – Sebanyak 21 staf medik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tenriawaru Kabupaten Bone, tiba-tiba menutup pelayanan terhadap pasien elektif atau pasien yang masih bisa ditunda pemeriksaannya karena kecewa dengan kinerja Direktur Umum RS, Andi Nurmina Yusuf, Selasa (21/11/17) sekitar pukul 10.00 Wita.
Salah seorang wakil staf medik RS, yang enggan disebut identitasnya mengatakan bahwa masalah ini sebenarnya sudah terjadi sejak 2015 lalu, dimana Dirut RS dianggap tidak transparansi dan tidak pernah melibatkan pihak staf medik dalam pertanggungjawaban keuangan RS.
Diantara tuntutan pihak staf medik yakni evalusi kinerja Dirut dalam memimpin manajemen RS, sistem pembagian jasa medik tidak ada hasil kesepakatan, perubahan perbup No 7 tahun 2014 tentang remunerasi di RS sampai saat ini belum direvisi dan perbup yang ada dibuat bukan berdasarkan berdasarkan musyawarah dan tidak melibatkan stakeholder RS, tidak memenuhi prinsip keadilan, transparansi dan akuntabel.
“Dirut tidak pernah hadiri rapat komite medik atau rapat lain yang melibatkan komite medik, tidak ada transparansi pengelolaan keuangan dan pelayanan teknis RS sesuai pedoman pengelolaan BLUD pasal 31 ayat 2, tidak ada informasi LPJ apakah RS rugi atau untung, dasar pembagian jasa dan remunerasi tidak jelas dan tidak pernah disampaikan berapa jumlahnya, tidak ada laporan pengawas internal terkait pengelolaan keuangan BLUD RS” beber staf medik RSUD Tenriawaru.
Para staf medik ini tetap mengutamakan profesionalisme dan prinsip dasar kemanusiaan dengan tetap memberikan pelayanan bagi pasien yang emergency dan urgency. Namun, ini adalah solusi terakhir yang ditempuh oleh para staf medik dan berharap mendapat respon positif dari pihak RSUD Tenriawaru.
“Sungguh heran memang RS di Bone ini, ketika RS lain berlomba-lomba mendapatkan dokter, disini malah menyia-nyiakan dokternya, dan ini sudah berlangsung lama, selama ini kami sudah komunikasikan tapi hanya dijanji, jadi kesannya hanya PHP” lanjut staf medik tersebut.
Aksi yang mereka namai aksi damai ini menurut staf medik RS hanya berlangsung sementara dan mereka akan melanjutkan pelayanan setelah rapat, namun jika tak ada respon dari pihak RS, aksi ini kemungkinan akan dilanjutkan dengan hanya memberikan pelayanan bagi pasien yang tidak dalam kondisi emergency atau darurat dan pasien urgency yang hanya bisa ditunda dua atau tiga hari. (eka)
Comment