Laporan : Sandi Darmawan
Mahasiswa KKN UIN Aladdin Angkatan 58
Dari Kabupaten Toraja Utara.
BERITA-SULSEL.COM – Selain Terkenal dengan berbagai tempat-tempat wisata yang keren, Tana Toraja juga terkenal dengan berbagai budaya yang terus di praktekkan dalam keseharian penduduk setempat.
Salah satunya yakni “Rambu Solo” sebuah ritual yang dilaksanakan apabila seseorang meninggal dunia, acara ini biasanya dirayakan sesuai kemampuan ekonomi keluarga masing-masing, jika yang meninggal memiliki kecukupan ekonomi acaranya juga sangat meriah dan begitu pula sebaliknya.
Berbagai hidangan tersedia dalam acara ini, mulai dari Kopi khas toraja, snack seperti Beppa Tori, hingga makanan berat seperti kerbau, Kuda, babi (apabila almarhum beragama kristen) yang jumlahnya tergantung kemampuqn keluarga yang meningggal. Namun dalam megahnya acara rambu solo itu, Toleransi dan saling menghormati keyakinan tetap saja di tegakkan.
jika tamu yang datang beragama islam maka hidangan yang disediakan ialah makanan yang dalam pandanagan islam di lebeli halal, sebagai bentuk penghormatan keyakinan satu sama lain.
“Acara seperti ini biasanya memisahkan tempat muslim dan kristen, agar makanan yang dihidangkan sesuai aturan agama pemeluknya” Tutur Imran Zero salah seorang tokoh masyarakat saat dimuntai pandangan di acara Rambu Solo yang di gelar di Kelurahan Bokin, Kecamatan Rantebua Toraja Utara, Kamis (12/05/2018)
Perlakuan tersebut dilaksanakan agar dalam pelaksanaan acara seperti ini tidak terkesan mengorbankan keyakinan tamu atauoun keluarga yang datang untuk menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga yang di tinggal.
” Banyak pandangan orang luar yang katakan kalau acara rambu solo itu, biar orang islam tetap di hidangkan babi, padahal faktanya tidak demikian, orang-orang pasti saling menghormati keyakinan masing-masing” lanjut Ambe Imran sapaan akrabnya.
Selain tetap menjaga keyakinan masing- masing, Acara rambu solo seperti ini juga membudayakan kerjaGotong Royong antar pemeluk agama yang berbeda, biasanaya sebelum hari H, orang-orang akan ramai berdatangan di rumah duka untuk membuat pondok yang dijadikan tempat duduk bagi tamu yang berdatangan.
” Kalau kerja pondok hampir semua penduduk datang jika tak punya kesibukan, baik yang agama Kristen maupun Islam, dari keluarga dan orang lain, semuanya drmgan suka repa datang untuk saling membantu,” bebernya lagi.
Acara rambu solo biasanya dirayakan selama seminggu atau lebih dengan dana yang cukup besar jumlahnya. Sebagian besar orang-orang di Toraja masih terus merayakan ” ritual tersebut” pada saat kehilangan salah seorang anggota keluarganya.(*)
Comment