
MALILI, BERITA-SULSEL.COM – Bersyukur adalah sikap manusia yang sudah melekat pada setiap manusia, terlebih pada masyarakat agraris. Dikatakan, dalam masyarakat agraris itu berarti ada kaitannya dengan pertanian, dan perkebunan terlebih dengan hasil panen yang didapat. Masyarakat juga bersyukur karena pada hakekatnya masyarakat agraris adalah mereka yang dekat dengan alam ciptaan Sang Khalik.
Pesta Panen juga dilakukan di kalangan masyarakat Luwu Timur, yang disebut dengan istilah “Padungku”. Acara tahunan ini dinyatakan dengan berkumpulnya masyarakat dari dua wilayah yang berbatasan, diantaranya Dusun Kontine(Desa Kawata), dan Dusun Bonepute(Desa Matano), Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur.
Hal itu diawali dengan Ibadah syukur yang di pusatkan di Gereja Toraja Kawata,(Sabtu 25/06/2016 )di pimpin oleh Pdt.Edy Payungan, S.Th sebagai Pendeta Jemaat, dan Khotbah oleh Pdt.Friber Mangiri,.S.Th, MM., dengan Thema : “Bersatu dalam Tuhan.”dalam khotbahnya Friber juga mengajak semua yang hadir untuk selalu bersyukur Kepada Tuhan dalam segala hal.
Dengan demikian kita diingatkan bahwa sebagai insan ciptaan Tuhan harus mensyukuri hasil panen dan membangun hubungan dengan Allah sebagai Sang Pencipta (secara vertikal) dinyatakan dengan Doa dan mengumpulkan hasil panen (Piong) untuk makan bersama sebagai wujud membangun harmonisasi dengan sesama(horizontal).
Hal senada juga di sampaikan Kepala Desa Matano “Jonlis DM,”dalam sambutannya bahwa acara Padungku mengandung nilai budaya dan religi yang rutin diadakan tiap tahun dalam menjaga kebersamaan dan mempererat budaya gotong royong, selanjutnya kedepan sudah dialokasikan anggaran desa senilai Rp.30 juta untuk bibit unggul jagung agar masyarkat memanfaatkan dengan baik demi meningkatkan hasil panen, tuturnya.(Did)
Baca Juga
Bupati Lutim Usulkan Revisi Ranperda RPJP
Desa Puncak Indah Lutim Dapat Bantuan Pemberdayaan dari PT Vale
Pemuda Desa Ini Ajak Masyarakat Lutim Berwirausaha
Comment