Keturunan Raja Bone Kecam Aksi Pengrusakan Balla Lompoa

Balla Lompoa
Balla Lompoa

BONE, BERITA-SULSEL.COM – Insiden perseteruan dua kubu terkait Somba atau raja di Kabupaten Gowa yakni Andi Maddusila yang bergelar I Maddusila Daeng Manyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II yang mengklaim diri sebagai Raja Gowa dengan Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan yang juga mengklaim diri sebagai Sombaya ri Gowa atau dalam arti berkedudukan di atas raja, beberapa hari lalu belum menemukan titik temu tentang siapa yang lebih berhak atas Istana Balla Lompoa.

Dalam aksi pengrusakan di Balla Lompoa, sempat beredar foto dan video dimana salah seorang pelaku mengenakan baju bergambar Arung Palakka.

Hal ini kemudian memicu kemarahan putra Bone yang menganggap ini sebagai bentuk provokasi dan rawan konflik karena terkait adat dan budaya daerah.

Laskar Arung Palakka dengan di dukung oleh Andi Baso Bone Mappasissi putra Andi Mappasisi Petta Awangpone yang masih keturunan Raja Bone ke 28, Singkeru Rukka, kemudian melakukan aksi spontanitas di bundaran tugu jam depan Rujab Bupati Bone, Jalan Petta Ponggawae, pada Kamis (15/9/16) siang.

Melalui orasinya, ketua Laskar Arung Palakka, Andi Akbar menegaskan bakal mengecam tindakan pemerintah Kabupaten Gowa atas pengrusakan fasilitas serta pusaka yang ada di Balla Lompoa.

“Kami meminta pemerintah Gowa tidak semena-mena menguasai serta merusak fasilitas yang ada di Balla Lompoa, kami minta juga kepada dewan adat merevitalisasi fungsi dan peran kelembagaan adat sebagai motor penggerak juga wadah partisipasi masyarakat sebagai pelaku pelestarian adat” tegas Andi Akbar dalam orasinya.

Selain pemerintah, demonstran juga meminta Kapolda Sulsel untuk menuntaskan konflik yang ada di Kabupaten Gowa.

Baca Juga

Bupati Bone Siap Panen Pedet dan Masuk Rekor MURI

KEPMI Bone Gelar Diskusi Bersama Anggota DPR RI

Festival Pesona Bahari Takabonerate 2016 Hebohkan Sulsel

Sementara Andi Baso Bone yang masih keturunan Raja di Bone, mengaku prihatin dengan kondisi ini dan meminta dukungan semua pihak Kesultanan juga pemerintah pusat untuk turun tangan menyelesaikan kasus ini.

“Sepertinya ada upaya memprovokasi anak Bone, karena beredar foto pelaku menggunakan baju Arung Palakka, jadi seolah kita dijadikan kambing hitam, untuk itu kita harus mengambil sikap dengan mengecam aksi yang terjadi di Gowa” jelas Andi Baso Bone yang akrab disapa Puang One’.

Baginya aksi ini sebagai bentuk perlawanan terhadap aksi yang terjadi di Kabupatn Gowa yakni aksi konsolidasi dimana kerajaan Bone menuntut agar pemerintahan Gowa tidak melantik dirinya sendiri sebagai Somba di Gowa.

Pengrusakan Balla Lompoa merupakan aksi yg sepantasnya tidak dilakukan. Agar hal ini tidak terjadi lagi, Kerajaan Bone mendukung penuh Andi Maddusila untuk menjadi somba di Gowa.

“Budaya merupakan sendi penguatan NKRI, untuk mencegah rusak dan runtuhnya budaya, kami mengambil sikap dengan meminta pemerintah pusat untuk turun tangan. Kami jg mendukung Andi Maddusila untuk menjadi somba di Gowa” tutupnya.


Comment