
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Pendidikan merupakan pilar utama kemajuan sebuah bangsa. Sehingga, bangsa yang baik mampu melahirkan generasi muda mandiri dan mampu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hal ini disampaikan Ketua Yayasan Bakti Bumi Persada yang membina Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Wira Bhakti Makassar, Andi Mustaman saat ditemui di kampusnya, Jumat (11/11/2016).
Menurutnya, pendidikan yang dimaksud yakni karakter yang dapat mengembangkan kreatifitas dan kemampuan anak untuk berfikir kritis sehingga apa yang dipelajari dapat tertanam dalam diri setiap manusia, khususnya pemuda. Untuk itu, setiap pendidik harus mengetahui tentang pendidikan, khususnya hakikat manusia dan pendidikan.
“Untuk mencapai tujuan pendidikan, seorang pendidik harus mengetahui tentang ilmu pendidikan. Sebab, pendidikan tidak pernah terpisah dengan manusia,” ujarnya.
Mustaman menginginkan Makassar tidak hanya dikenal sebagai pusat ekonomi. Ia juga memimpikan Makassar sebagai pusat pendidikan tinggi yang ternama di Indonesia, khususnya di Kawasan Timur Indonesia.
Hal ini tentu menjadi alasan yang kuat baginya. Karena selain sebagai politisi, putra kelahiran Bone tahun 1961 ini juga tercatat sebagai akademisi atau tokoh Pendidikan Kota Makassar.
“Untuk mewujudkan Makassar sebagai kawasan ternama dalam dunia pendidikan tinggi, maka yang perlu dibenahi adalah sarana dan prasarana pendidikan yang harus standar,” jelasnya.
Kata dia, kualitas harus menjadi utama diperhatikan oleh seluruh penyelenggara maupun pengelola pendidikan tinggi. ”Saya berharap jika ada orang mencari jurusan terhebat, itu harus ada di Makassar,” harapnya.
Mustaman menambahkan pengembangan daerah harusnya tidak terfokus pada sektor bisnis. Tetapi lebih kepada pengembangan pendidikan.
“Pendidikan ini harus dibenahi. Kalau pendidikan bagus, pasti kegiatan ekonomi juga ikut terdorong meningkat,” tandas Pendiri sekaligus Ketua Yayasan STIE Wira Bhakti Persada Makassar ini.
Mustaman melanjutkan, yang bisa mengubah Makassar lebih baik adalah pemimpin yang memiliki kejujuran dan kebenaran. Dua parameter ini tumbuh di lingkungan akademisi.
“Akademisi bisa saja salah, tetapi dia jujur. Karena dosen tidak pernah mengajarkan ketidakbenaran kepada mahasiswanya, tetapi selalu menanamkan nilai-nilai kebenaran di dalam diri mahasiswanya. Makanya lebih tertarik jika akademisi yang menjadi Wali Kota Makassar yang akan datang,” tutupnya. (*)
Comment