
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Manajemen PSM selalu menyebut butuh pelapis pemain muda. Hanya saja, tiga pemain yang dipanggil seleksi saat ini belum disodorkan kontrak. Terkait hal ini, PSM diminta meniru langkah yang diambil Persebaya, Pusamania Borneo FC, hingga Persija.
Pemain muda memang dibutuhkan PSM menyusul Asnawi Mangkualam Bahar dan Nur Hidayat harus mengikuti pemusatan latihan tim nasional level usia. Asnawi bersama timnas U-22 dan Nur Hidayat di timnas U-19.
Tanpa kedua pemain ini, lima pemain berusia di bawah 23 tahun praktis hanya tersisa empat orang. Yaitu, Reva Adi Utama, Muh Arfan, Ridwan Tawainella, dan kiper Hilman Syah.
Memang ada tiga stok pemain U-23. Hanya saja, setelah melalui pemusatan latihan Jilidi II di Nusa Dua, Bali, mereka tidak kunjung mendapat kepastian status. Ketiganya adalah, Romario, Syafei, dan Safri.
Khusus Safri, ia memang baru bergabung pekan lalu. Selain status, khusus Romario dan Syafei yang mengikuti pemusatan latihan belum mendapat tempat di mata sang pelatih.
Jangankan uji coba melawan tim Perseru, pertandingan internal pun dua pemain itu hanya menjadi pengganti. “Meski seleksi sebaiknya tetap diberi kepercayaan,” harap mantan pelatih PSM, Assegaf Razak.
Menurut Assegaf Razak, laga uji coba tujuannya untuk membentuk kerangka tim. Apabila uji coba juga untuk mengantisipasi regulasi U-23 diterapkan, maka pemain muda layak dapat kesempatan.
“Saya lihat, sebenarnya tidak ada krisis pemain U-23 di PSM. Talenta pemain muda banyak di Sulsel. Lihat saja Persija hingga PBFC harus ke Makassar untuk mencari bibit muda,” jelasnya.
Assegaf pun berharap PSM segera membentuk tim pencari bakat. Menurutnya jika hal ini lambat di antisipasi maka pemain terbaik akan ditarik lebih dulu oleh klub lain.
“Seperti di Persebaya, Persija, dan beberapa klub lainnya. Sebaiknya segera patenkan pemain yang masih seleksi itu kalau memang tidak cocok, ya, segera cari penggantinya,” bebernya.
Lebih lanjut Assegaf justru mendukung proses penerapan Regulasi U-23 ini. Namun dengan catatan pemain U-23 tetap digantikan dengan pemain yang sama.
“Jika memang untuk pembinaan harusnya dimainkan full time. Sebab kebanyakan klub memainkan pemain mudanya karena terpaksa, semata untuk mengikuti regulasi,” terangnya.
Comment