
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Imam masjid Umar Gazali Kampus STIKI di Jalan Toddopuli Raya Timur, Nomor 4, Borong, Makassar, Sulawesi Selatan, Harun Abdullah, S.Ag.,M.A meraih doktor dalam bidang ilmu pendidikan di Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Makassar (UNM).
Harun Abdullah mengupas masalah pengembangan model pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis mind mapping untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMK dibimbing Prof.Dr.H. Syamsul Bahri Thalib, M.Si sebagai Promotor, dan Dr. Abdullah Sinring, M. Pd. kopromotor.
Kata Harun, dengan judul tersebut, penelitiannya bertujuan mengetahui gambaran pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 1 Sulawesi Selatan. Selain itu, menggambarkan model pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis Mind mapping yang valid, praktis dan menarik.
Tak hanya itu, penelitian ini bertujuan mengetahui keefektifan model pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis Mind mapping. penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (Research and Development), model penelitain pengembangan yang dipilih adalah model yang dikembangkan oleh Borg dan Gall.
Tahapan penelitian terdiri tiga tahap, pertama penelitian pendahuluan yang merupakan kegiatan research and information collecting memiliki dua kegiatan utama, yaitu studi literature dan studi lapangan. Kedua pengembangan model adalah gabungan dari tahap planning and development of the preliminary from of product.
Tahap-tahap pengembangan model pembelajaran Mind Mapping secara rinci mencakup beberapa kegiatan yaitu menyusun desain awal model, validari ahli, pengujian model tersebut, pengujian model lebih luas, dan revisi utama model. Sedang tahap ketiga yakni evaluasi produk. Disini uji efektifitas model menggunakan quasi experimental design dengan rancangan Nonequivalent Control Group Design. Penelitian dan pengembangan ini dilakukan di SMK Negeri 1 Sulawesi Selatan.
Secara umum, Harun menjelaskan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003).
Di samping itu, jelas Harun, pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar untuk membawa dan mengantar peserta didik ke dalam proses berpikir yang rasional, obyektif. Dengan demikian maka pola pendidikan yang sistimatis dan ilmiah dapat membantu aktivitas hidup manusia.
Upaya untuk mewujudkan sosok manusia seperti yang tertuang dalam definisi pendidikan di atas tidaklah terwujud secara tiba-tiba. Upaya itu harus melalui proses pendidikan dan kehidupan, khususnya pendidikan agama dan kehidupan beragama. Proses itu berlangsung seumur hidup, di lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat.
Salah satu masalah yang dihadapi oleh dunia Pendidikan Agama Islam saat ini adalah bagaimana cara penyampaian materi pelajaran agama tersebut kepada peserta didik sehingga memperoleh hasil semaksimal mungkin. Apabila kita perhatikan dalam proses perkembangan Pendidikan Agama Islam, salah satu kendala yang paling menonjol dalam pelaksanaan Pendidikan Agama ialah masalah metodologi.
“Realitas yang terjadi di sekolah SMK Negeri 1 Sulawesi Selatan adalah mata pelajaran PAI terkesan masih bersifat konvensional, baik metode yang digunakan maupun pengaturan tata ruang yang masih monoton, hal ini membuat proses pembelajaran belum dapat menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya ia belajar (belajar untuk belajar). Dalam arti yang lebih substansial, bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang,”ujarnya.
Setiap guru Pendidikan Agama Islam, ujar Harun, harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai berbagai metode yang dapat digunakan dalam situasi tertentu secara tepat. Guru harus mampu menciptakan suatu situasi yang dapat memudahkan tercapainya tujuan pendidikan.
Menciptakan situasi berarti memberikan motivasi agar dapat menarik minat siswa terhadap pendidikan agama yang disampaikan oleh guru.
“Sebagai pendidik dan pengajar, senantiasa di tuntut untuk mampu menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, serta dapat memotivasi siswa dalam proses pembelajaran yang akan berdampak positif dalam pencapaian prestasi hasil belajar secara optimal. Pendidik dapat menggunakan metode pembelajaran yang tepat, efektif, efisien untuk membantu meningkatkan kegiatan pembelajaran serta memotivasi siswa untuk belajar dengan baik,” terangnya.
Dalam ringkasan disertasi, Harun menuliskan, salah satu tugas pokok guru adalah melakukan evaluasi. Pasalnya, evaluasi merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian dan/atau pengukuran hasil belajar.
“Tujuan utamanya untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, di mana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol.
Kata Harun, penelitian yang dilakukannya menggunakan pendekatan pengembangan dengan alasan karena sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Sedangkan model penelitian pengembangan yang dipilih adalah model penelitian dan pengembangan pendidikan yang dikembangkan oleh Borg dan Gall. (*)
Comment