Puluhan Tahun Hidup di Gubuk, Nenek di Bone Undang Prihatin Publik

Puluhan Tahun Hidup di Gubuk, Nenek di Bone Undang Prihatin Publik

BONE, BERITA-SULSEL.COM – Hidup disebuah gubuk tua berukuran 2×3 meter, sejak hampir 30 tahun silam, hidup nenek Tuo tentunya jauh dari layak apalagi jika gubuk sempit tersebut harus dia tempati bersama anak perempuannya.

Ditemani alas plastik dan sarung yang sudah lusuh, nenek Tuo seolah tak merasakan sulitnya hidup sebab dibibirnya senantiasa tersenyum setiap kali ada orang bertandang ke gubuk kecilnya tersebut. Berbekal sebuah mata lampu, nenek Tuo menjalani hari demi hari bersama putri semata wayangnya walaupun ada saudara perempuannya yang tinggal di sebuah rumah tak jauh dari gubuk nenek Tuo.

Tak ada kasur empuk, bantal atau peralatan makan yang layak disana karena gubuk tersebut sudah cukup sempit hingga tak ada ruang untuk kamar tidur apalagi dapur. Sejak beberapa bulan lalu, nenek Tuo terus mendapatkan bantuan berupa barang, sembako dan uang dari orang-orang yang prihatin atas kehidupannya.

Ketua Penyandang Disabilitas Bone, Andi Takdir, adalah orang yang senantiasa peduli pada hidup nenek Tuo. Setiap sumbangan yang datang disalurkan secepatnya agar nenek Tuo bisa sedikit menikmati makan dan tidur yang lebih nyaman. Andi menyesalkan tidak adanya perhatian pemerintah setempat terhadap nenek Tuo, padahal berbagai kelengkapan dokumen seperti KTP, KK dan KIS sudah dimiliki nenek Tuo.

“Kami dari PPDI Bone sangat menyayangkan pemerintah setempat mengabaikan usulan program bedah rumah buat nenek Tuo waktu musrembang desa beberapa bulan yang lalu padahal keadaan nenek Tuo ini sudah dipublikasikan sejak 2014 lalu dengan tujuan agar pemerintah bisa bertindak cepat memberikan perhatia serius, namun ternyata sampai saat ini pemerintah desa tidak ada tindakan sedikitpun” ujarnya kecewa.

Berbagai program pemerintah serta tagline Bone Sehat, Cerdas dan Sejahtera rupanya tak membawa pengaruh bagi kehidupan nenek Tuo. Meski tak pernah mengeluh dengan kehidupan yang dia jalani selama puluhan tahun, Andi mengaku tetap akan memperjuangkan nasib nenek Tuo hingga nasib baik akan berpihak padanya suatu hari nanti.

“Kami kecewa, mereka hanya mementingkan orang dekat mereka dan lebih suka pergi jalan jalan ke Bali, sementara masyarakatnya menderita, tapi kami akan terus berusaha agar nanti nenek Tuo bisa hidup layak bersama anaknya” tutup Andi. (eka)


Comment