
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Kemenangan 1-0 bagi Bali United di pekan ke-33 lanjutan GO-JEK TRAVELOKA LIGA 1 2017 di Stadion Mattoanging, Senin (6/11/2017) menjadi laga yang sangat berkesan bagi Pieter Tanuari, bos besar Bali United.
Berkesannya karena selain menyaksikan langsung Irfan Bachdim dan kawan-kawan mengalahkan PSM Makassar dalam pertandingan yang krusial, kali pertama pula Pieter Tanuri, merasakan dievakuasi dari stadion dalam kondisi mencekam memakai mobil lapis baja Barracuda milik Brimob Polda Sulsel.
Dalam laga itu Pieter Tanuri merasakan mencekamnya stadion akibat pertandingan yang berakhir rusuh. Di depan mata menyaksikan bagaimana ratusan botol, batu, hingga kursi, melayang ke arah bangku cadangan pemain Serdadu Tridatu.
Pieter Tanuri mengisahkan Senin pagi baru tiba dari Amerika Serikat (AS) untuk urusan bisnis. Sebenarnya dia baru dijadwalkan pulang dari AS pada Selasa. Tapi karena laga PSM vs Bali United merupakan penentuan, pria yang juga anggota Exco PSSI ini mengubah jadwal kepulangan.
“Dari Amerika saya hanya transit di Jakarta, ganti pesawat, langsung berangkat ke Makassar tanpa istrahat. Padahal saya sebenarnya sangat lelah,” kata Pieter Tanuri di Hotel Four Poin By Sheraton, Makassar, usai laga PSM vs Bali United, Selasa (7/11/2017) dini hari.
Di Stadion Mattoanging Pieter Tanuri berbaur dengan penonton di tribune tertutup bagian barat. Saat itu ia satu-satunya penonton yang mengenakan baju denga warna lain, yaitu hijau.
Ia ada di antara ribuan pendukung tuan rumah yang hampir seluruhnya mengenakan baju warna merah marun, warna kebesaran Juku Eja.
Tidak ada yang mengenalinya. Pieter Tanuri hadir seperti penonton lainnya. Berdiri dan bersorak. Sesekali bernyanyi, mengikuti irama lagu yang dinyanyikan pendukung tuan rumah.
“Saat PSM menyerang dan membahayakan gawang Bali United, saya ikut bertepuk tangan. Berteriak, seperti pendukung PSM,” katanya.
Pada masa injury time saat Stevano Lilipaly mencetak gol, spontan Pieter Tanuri berteriak kegirangan. Mengangkat kedua tangannya.
“Saat itu saya baru sadar, ternyata berteriak kegirangan. Sementara semua orang terdiam. Saya baru sadar ada di tengah suporter PSM,” kenang Pieter Tanuri, sambil tertawa.
Khawatir terjadi sesuatu, ia lalu mengamankan diri. Turun dari tribune ke lantai satu. Sesaat kemudian suasana berubah, mulai tidak kondusif. Itu terjadi setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.
Pieter Tanuri merasakan suasana mencekam. Di dalam lapangan seluruh pemain dan ofisial Bali United diamankan ke tengah lapangan dengan berlindung di bawah tameng aparat keamanan.
Ribuan penonton masuk lapangan. Botol dan benda-benda keras lainnya juga melayang. Seluruh pemain dan ofisial lalu dievakuasi menggunakan mobil Barracuda menuju Mako Brimob di Jalan KS Tubun, Makassar. Pieter Tanuri juga ikut di dalamnya.
“Selama ini saya yang selalu minta mobil Barrakuda dihadirkan kalau Bali United menjadi tuan rumah. Tapi kali ini saya yang akhirnya merasakan naik Barracuda,” ujar Pieter Tanuri, pria kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1963 ini.
Ia mengaku mengaku selama ini hanya menyaksikan kerusuhan di stadion lewat layar kaca. Termasuk menyaksikan orang dievakuasi memakai mobil lapis baja milik Polri.
Di Makassar justru Pieter Tanuri merasakan pengalaman yang mungkin tak akan terlupakan. Inilah pengalaman pertama Pieter Tanuri, berangkat dari AS ke Makassar, tetapi pulang naik Barracuda ke Mako Brimob dan baru diantar pulang ke hotel.
Comment