Oleh : Ardiansya
Sekretaris Umum Pikom IMM FKIP Unimuh Makassar
Pendidikan bertujuan memberikan rasa sadar kepada peserta didik. Selain itu, pendidikan adalah sistem terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, sehingga peserta didik mampu mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka.
Itulah hakikat pendidikan sebenarnya, memiliki tujuan untuk menghadirkan secara aktif sikap spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak, mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Achmad Munib, 2004: 142).
Jika hari ini, pendidikan hanya menjadi wadah yang serba instan. Maka, hakikat pendidikan itu tidak mampu kita wujudkan. Kebijakan pembelajaran daring saat ini memang bukan sesuatu yang dirancang oleh pemerintah. Pola ini telah berlangsung lima pekan akibat pandemi virus corona atau Covid 19.
Akibatnya, segala aktivitas kehidupan kita sehari-hari terganggu, termasuk proses pendidikan, masalah ekonomi, sosial hingga politik.
Sebelum wabah ini merasuki ibu pertiwi, pembelajaran daring sudah diterapkan. Namun, kurung waktunya diselang-seling dengan pembelajaran luar jaringan. Sistem daring sudah memberikan dampak yang sangat merugikan bagi peserta didik.
Menurut data organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan perserikatan bangsa-bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), hampir 300 juta peserta didik di dunia terganggu disemua tingkatan.
Pembelajaran melalui daring merupakan solusi satu-satunya ditengah pandemi. Namun, faktanya di lapangan pembelajaran daring mulai bersifat formal semata. Ketika tugas hanya menjadi tolak ukur kehadiran tanpa memiliki tujuan mecerdaskan yang termaktub dalam unsur penting dalam pendidikan yaitu afektif, kognitif dan psikomotorik.
Apakah afektif mampu berkembang dengan baik jika peserta didik hanya mengejar absensi semata tidak menamakan sikap sadar dalam menempuh pendidikan. Apakah kognitif mampu terkoneksi dengan baik jika instanisme tertanam di otak mereka, apakah psikomotorik mereka mampu berkembang sesuai harapan jika hanya mengandalkan aplikasi dan jari-jari semata.
Selain itu, kemampuan pendidik dalam memberikan suguhan menarik berbasis teknologi masih terbatas jika hanya mengandalkan WhatsApp mesengger dan classroom. Siswa butuh pembelajaran yang lebih kreatif setiap hari. Sebab, kejenuhan dalam belajar merupakan sesuatu yang wajar terjadi pada peserta didik.
Sehingga, pendidik diharapkan mampu membangun strategi yang lebih jitu demi terciptanya proses pembelajaran menarik. Jangan sampai ini hanya terjadi pada saat pembelajaran tatap muka. Namun, juga terjadi pada pembalajaran daring terlebih lagi kita menghadapi kondisi yang sangat Urgent.
Bukan justru memberikan beban psikologi dengan diperadakannya tugas yang tidak mempertimbangkan kondisi peserta didik alias berlebihan.
Opini-opini tentang keluhan pembelajaran Daring Bukan hal baru yang kita dengar namun ini telah menjadi kicauan status para peserta didik. Jangan sampai keluhan tertutup ditelinga mereka para pendidik. Sangat kecil kemungkinan jika keluhan itu tidak mampu dipahami dan dibaca dengan baik, namun semakin banyak keluhan justru beban psikologis semakin terasa dikalangan peserta didik dengan Pola pembelajaran yang monoton.
Saya tegaskan kembali, tulisan ini bukan tidak pro pada proses pembelajaran daring atau menolaknya. Kami mengharap sosok pendidik yang mampu beradaptasi dengan kondisi ketika peserta didik mengalami masalah kejenuhan.
Pendidik harus menciptakan suasana yang lebih kreatif dan inovatif. Jika siswa diharapkan mampu untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada, maka pendidik harus lebih mampu untuk melakukannya.
Mari sama-sama kita berdoa semoga Pandemi ini cepat berlalu dan untuk teman-teman di luar sana sesama peserta didik tetap bersabar dan senantiasa mengaji dan mengkaji selama proses karantina yang kalian lakukan dirumah masing-masing. Saya yakin, semangat belajar itu masih ada.
Jangan hanya menimpahkan kepada pendidik tetap ingat pesan Ki Hajar Dewantara “Jadikan Setiap Orang sebagai Guru, Setiap Rumah sebagai Sekolah”.
Comment