Oleh : Muh Dafha Wardana R
Mahasiswa Sosiologi FIS UNM
Dewasa ini, media sosial bukan sesuatu hal yang asing bagi kita. Media komunikasi berbasis jaringan ini seakan menjadi suatu kebutuhan. Berbagai macam platform dengan fitur dan fungsinya kian diminati. Media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp, Twitter dan Youtube paling populer saat ini.
Siapa saja bisa mengaksesnya dengan mudah. Tak heran, jika semua kalangan, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak sudah mempunyai akun media sosial. Data dari We Are Social, hingga saat ini ada sekitar 160 juta pengguna aktif media sosial di Indonesia.
Kehadiran media sosial sebagai wahana pertukaran informasi dan diskusi sangat membantu, khususnya bagi masyarakat modern yang pragmatis. Kita dapat mengetahui peristiwa apa yang terjadi disegala penjuru dunia hanya dengan rentang waktu sepersekian detik. Bahkan, kita dapat berkomunikasi dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya. Hal itu menunjukkan bahwa kita tidak lagi dibatasi dimensi ruang dan waktu.
Seperti yang penulis jelaskan diatas, media sosial seakan menjadi sebuah kebutuhan. Seseorang menunjukkan eksistensinya melalui media maya. Jika kita ingat ungkapan Descartes, cogito ergo sum, “aku berpikir maka aku ada”, mungkin sekarang tergeserkan dengan “aku ber-sosmed maka aku ada” seperti judul yang saya angkat.
Melihat fenomena, setiap orang dengan begitu eksisnya di media sosial, memamerkan kehidupannya, memperlihatkan kerupawanannya. Padahal belum tentu apa yang terlihat itu sesuai dengan kehidupan nyata.
Pemikir Sosiolog, Erving Goffman (1959) tentang “dramaturgi”, setiap individu akan menampilkan dirinya sebagaimana yang diinginkan layaknya seorang aktor yang memainkan peran (front stage). Tetapi ketika pertunjukan selesai, individu kembali ke belakang panggung dan dapat menjadi karakter aslinya tanpa harus memikirkan citranya (back stage).
Tanpa disadari kita sedang terjebak di dalam ruang maya yang benar-benar menjadi sebuah lena. Sehari tanpa mengakses sosial media rasanya seperti kehilangan berjuta informasi. Dibandingkan dengan kehidupan nyata, seseorang mungkin lebih banyak menghabiskan waktu di ruang tersebut. Seakan di sanalah kehidupan yang sebenarnya. Dunia maya tidak lagi sepenuhnya maya. Semua yang nampak di dalam sana dianggap itulah yang nyata.
Media sosial kini dijadikan ruang untuk membahas kehidupan pribadi, bahkan tempat meluapkan amarah, penghinaan, kebencian, hingga perundungan. Orang-orang dengan mudahnya melakukan kritik, saling menghujat, sampai ada yang bersikap seolah ialah Tuhan, menghakimi orang lain.
Hal tersebut menjadi sebuah tren dalam ruang media sosial, khususnya bagi netizen Indonesia. Bahkan ada oknum yang dengan sengaja membuat akun medsos hanya untuk digunakan mengomentari orang lain.
Tren yang melanda netizen khususnya di Indonesia ini merupakan wujud dari teralihkannya fungsi media sosial sebagai wadah pertukaran informasi dan diskusi dalam mewujudkan proses komunikasi yang harmonis. Penyampaian pesan, diskusi, dan silang pendapat tentang isu-isu di media sosial telah mengabaikan prinsip-prinsip fundamental dalam praktik komunikasi.
Apa yang berkembang di media sosial kini lebih mengarah kepada proses anti komunikasi, bukan lagi sebagai wahana pertukaran informasi dan diskusi untuk mencapai harmonisasi, tetapi lebih benyak membahas masalah pribadi.
Kita perlu bergerak maju mengikuti alur perkembangan zaman, olehnya itu kekayaan akan informasi sangat dibutuhkan. Jadikan media sosial sebagai ruang untuk memperluas pengetahuan, bukan semata-mata ruang pamer kepalsuan.
Comment