Ryan Latif Kecam Provokasi Petani di Luwu Timur, Kritikan Pedas Mengarah ke PT IHIP

Ryan Latief La Kaseng

LUWU TIMUR, BERITA-SULSEL.COM – Ketua Lembaga Adat Pasukan Adat Tomanurung, Ryan Latif Lakaseng, mengecam keras maraknya narasi kebencian dan provokasi yang mengancam kedamaian masyarakat di Kabupaten Luwu Timur. Pihaknya menilai aksi sekelompok oknum yang menyebarkan fitnah perpecahan berpotensi memicu konflik antarkelompok warga.

Secara khusus, Ryan menyoroti tindakan pihak-pihak tertentu yang mendiskreditkan para petani asal Masamba di Dusun Laoli. Oknum tersebut menyudutkan petani lokal dengan label “masyarakat pendatang”. Padahal, narasi semacam itu merusak tatanan persaudaraan yang telah lama terbangun di Tana Luwu.

“Seluruh masyarakat yang mengolah tanah di Luwu Timur merupakan warga negara yang sah. Oleh karena itu, melabeli mereka sebagai pendatang merupakan kekeliruan besar yang mencederai nilai persaudaraan,” tegas Ryan Latif dalam keterangan resminya.

Selain mengecam provokasi warga, Ryan melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah daerah yang terkesan mengistimewakan korporasi. Pihaknya menilai pemangku kebijakan justru memberikan perlakuan khusus kepada PT IHIP, sementara petani lokal terus menghadapi tekanan.

Menurutnya, ketimpangan perlakuan ini mencoreng rasa keadilan masyarakat. Sebab, warga lokal yang bekerja secara halal malah menerima stigmasi negatif. Sebaliknya, perusahaan besar justru memperoleh ruang gerak yang sangat luas.

“Kami sangat prihatin melihat perlakuan istimewa terhadap perusahaan asing. Seolah-olah mereka memegang kedaulatan tertinggi di atas tanah Luwu Timur,” ujarnya dengan nada kecewa.

Selanjutnya, Ryan mengingatkan publik mengenai potensi ancaman ekologis akibat aktivitas industri tersebut. Operasi pengolahan yang mengabaikan kearifan lokal berisiko merusak lingkungan serta mengancam mata pencaharian warga di sektor pertanian dan perikanan.

Ia menambahkan bahwa penggunaan teknologi industri skala besar berpotensi menghasilkan limbah berbahaya yang merusak ekosistem air dan tanah. Dampak buruk ini tentu mengintai keselamatan generasi mendatang jika semua pihak tidak bertindak kritis.

Oleh karena itu, Ryan mengajak seluruh elemen masyarakat Tana Luwu untuk menyatukan barisan dan menolak segala bentuk adu domba. Ia meminta warga tetap tenang, tidak mudah terprovokasi, serta terus mengawal kelestarian lingkungan demi masa depan Luwu Timur.


Comment