BERITA-SULSEL.COM – Pertarungan pencitraan calon kepala daerah di Sulsel tak hanya dilakukan secara langsung dengan mendatangi masyarakat. Tapi, kampanye untuk mendapatkan dukungan dan simpati masyarakat sebagai pemilih juga dilakukan di media sosial.
Direktur wwcomm (lembaga riset sosial media), Anwar Abugaza mengatakan, dari pemantauan pihaknya, penggunaan media sosial unuk kerja politik semakin meningkat.
“Di Indonesia politik dan sosial media seakan tak bisa dipisahkan, hal tersebut terlihat dari beberapa Pilkada, termasuk di DKI dan Bandung dengan menangnya Ridwan Kamil. Hal yang sama juga terjadi di Sulsel dengan 11 daerah yang melaksanakan pemilihan,” ujarnya dalam diskusi soal media sosial dan Pilkada di Makassar, Minggu (25/10/2015).
Dari pantauan pihaknya di beberapa daerah, termasuk Kabupaten Soppeng, pasangan Lutfi Halide – Andi Zulkarnain Soetomo (LHD-AZAS) berada di posisi paling atas dengan presentasi 61 persen, sedang Kaswadi Razak – Supriansa hanya 39 persen.
Hal ini menunjukkan, kata Anwar, pengguna media sosial di Soppeng lebih banyak mencari tahu tentang sosok LHD-AZAS. “Trend positif LHD – AZAS di Medsos 43 persen, sedang Akar – Super 35 persen. Sebaliknya, hal negatif LHD – AZAS 31 persen, Akar – Super 42 persen,” ujarnya.
Pengguna internet di Kabupaten Soppeng, jelas Anwar, jumlahnya mencapai angka 30.000 jiwa. Sedang pengguna media sosial cukup tinggi, yakni 90 persen. “Sosial media dan politik di Sulsel sudah sejalan saat ini, banyaknya tim atau kandidat yang menggunakannya untuk melakukan kampanye. Pesan yang disajikan akan bisa diterima langsung kepada pengguna medsos,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Riset dan Strategi Indeks Politica Indonesia (IPI) Jumardi MD mengatakan, peran media sosial di Pilkada saat ini sangat penting, bukan hanya untuk mempengaruhi masyarakat, tapi juga memperkenalkan diri, program hingga tujuan setiap orang yang ingin menjadi kepala daerah.
“Sebagai konsultan politik, semua media akan kami gunakan untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas calon yang kami dukung. Termasuk facebook dan Twitter,” ujarnya.
Menurutnya, media sosial tak hanya untuk melakukan pencitraan, juga untuk mencunter semua isu negatif, bahkan black campaign dari lawan. (*)
Comment