
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Dorongan kepada figur akademisi untuk maju Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) terus mengalir. Bukan hanya dari kalangan akademisi sendiri, tapi kali ini datang dari sejumlah politisi yang dikenal selama ini meramaikan pesta demokrasi lima tahunan daerah.
Dorongan kepada akademisi ini bukan tanpa alasan. Salah satunya bukti beberapa figur akademisi yang memimpin suatu daerah telah membuktikan keberhasilannya. Serta akademisi dianggap paham teori mengenai permasalahan daerah serta solusi yang akan dilakukannya.
Ketua terpilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Makassar, Busranuddin Baso Tika menyampaikan sudah saatnya akademisi untuk menjadi kepala daerah.
Untuk itu, BBT sapaan akrab Busranuddin Baso Tika mendorong akademisi untuk maju di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan digelar di beberapa kabupaten di Sulsel tahun 2018 mendatang.
Anggota Komisi A DPRD Kota Makassar ini menilai akademisi atau tenaga pendidikan harus mengambil peran dalam pembangunan derah. Sebab, telah memiliki ilmu teoritis serta mampu mengaplikasikannya dalam melakukan langkah-langkah pembangunan.
“Akademisi punya kebelihan yakni dalam melakukan langkah-langkah didasari dengan kajian ilmiah. Sehingga dalam pembangunan lebih terstruktur dan sistematis,” ujar BBT.

Kata dia, di beberapa daerah yang dipimpin akademisi telah terbukti maju dan mampu mensejahterakan maysarakatnya. “Akademisi harus terlibat dalam politik,” jelasnya.
BBT menambahkan, ada banyak figur akademisi yang telah terlibat dalam politik. Sehingga menurutnya figur tersebut punya peluang besar untuk bisa terpilih di Pilkada. “Apalagi kalau akademisi plus politisi,” jelasnya.
Hal senada disampaikan politisi Pantai Amanat Nasional (PAN) Kota Makassar, Hamzah Hamid yang turut memberikan dukungannya kepada akademisi untuk bertarung di Pilkada.
Anggota komisi D DPRD Kota Makassar ini menilai akademisi tidak diragukan lagi untuk menjadi kepala daerah. Hal ini sudah terbukti di beberapa daerah yang dipimpin akademisi.
Kata dia, akademisi atau tenaga pendidikan memiliki wawasan yang luas untuk mengambil peran sebagai kepala daerah. Karena sudah banyak bukti, contohnya Nurdin Abdullah Bupati Bantaeng mampu membawa daerah lebih jauh berhasil. “akademisi tidak bisa diragukan,” jelas Hamzah Hamid.
Menurutnya, peluang akademisi sangat besar karena memiliki konsep secara teoritis yang akan digunakan dalam menjalankan pemerintahan.
Namun menurut, Hamzah, konsep akademisi tidak sebanding lurus dengan pengalaman, mestinya akademisi membangun komunikasi para politisi dengan baik sehingga punya panggung untuk mengaktualisasikan konsepnya. “Biasanya konsep dengan pengalaman berbeda tapi ketika mampu menyesuaikan pasti hebat,” tutup Hamzah.
Sementara, Wakil Ketua DPW NasDem Sulsel, Arum Spink menyampaikan politik adalah ruang terbuka untuk semua kalangan, sehingga siapa saja boleh masuk, termasuk akademisi.
“Semua punya peluang, kami selalu membuka ruang untuk putra-putri terbaik bangsa untuk berpartisipasi dan mengabdi,” kata Pipink sapaan akrab Arum Spink.
Sehingga, lanjut Pipink, dirinya akan selalu mendorong dan mensupport, jika ada dari kalangan selain politisi yang ingin berpartisipasi. “Kita mendorong jika ada yang ingin berpartisipasi, apalagi kalau dari tokoh pendidikan atau akademisi,” imbuhnya.
Khusus untuk Kota Makassar yang akan menggelar Pilkada 2018 mendatang, politisi Partai Golkar, Rahman Pina mengungkapkan kalangan akademisi plus politisi memiliki kans untuk meraih kursi yang saat ini diduduki oleh Danny Pomanto.
Kata dia, semua kalangan bisa maju sebagai calon Wali Kota Makassar. Tak terkecuali bagi akademisi, politisi, pejabat pemerintahan, pengusaha, aktivis ataupun figur lainnya.
Menurutnya, semua figur ini memiliki peluang yang sama untuk menjadi orang nomor satu di Kota Makassar ataupun level diatasnya yakni orang nomor satu di Provinsi Sulawesi Selatan yang turut menggelar pemilihan Gubernur tahun 2018 mendatang. “Akademisi bisa maju. Semua orang bisa jadi calon dan semua orang bisa menang,” ujar Rahman Pina.
Walik rakyat yang terpilih dari Daerah Pemilihan Kecamatan Panakkukang dan Manggala ini membuka ruang bagi semua figur yang ingin bertarung. Namun, ia mengingatkan Pilwalkot Makassar masih lama.
“Terlalu cepat sebenarnya berbicara Pilwalkot Makassar sekarang, dua tahun lagi. Ini masih sangat lama untuk berbicara siapa tokoh yang akan maju,” jelasnya.
Pilwakot Makassar memang baru digelar dua tahun mendatang. Namun, sejumlah nama sudah mulai beredar untuk memberebutkan kursi yang diduduki oleh Danny. Figur ini muncur mulai dari kalangan politisi, birokrat, akademisi hingga pengusaha.
Danny Pomanto hampir dipastikan akan kembali bertarung untuk mempertahankan posisinya. Kemudian Syamsu Rizal atau akrab dengan nama Deng Ical turut hampir dipastikan akan berpisah dengan Danny.
Selanjutnya ada nama Andi Rachmatika Dewi, Irman Yasin Limpo, Haris Yasin Limpo, Farouk M.Betta, Kadir Halid, Adi Rasyid Ali, Rusdin Abdullah, Ibrahim Saleh, Haidar Majid dan lainnya. Khusus untuk kalangan akademisi plus politisi ada nama Endre Cecep Lantara, Andi Mustaman dan Syamsu Niang.
Comment