MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Tokoh berpengaruh sekaligus Mantan Panglima Pemenangan Prabowo Subianto pada Pemilu 2014 dan 2019, Ryan Latief, menyampaikan peringatan tegas terkait posisi strategis geopolitik tanah Bugis-Makassar. Ia menegaskan bahwa masyarakat harus terus menjaga stabilitas kebangsaan di Sulawesi Selatan karena wilayah ini menjadi pilar utama penopang keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Selama ini, perhatian publik memang sering tertuju pada dinamika integrasi nasional di wilayah ujung barat dan timur Indonesia seperti Aceh serta Papua. Namun, Ryan Latief mengingatkan bahwa ancaman terbesar terhadap eksistensi negara justru berpotensi muncul dari wilayah tengah Nusantara.
“Aceh dan Papua memang sudah lama menyuarakan dinamika ingin merdeka. Namun, jika kerajaan tertua tanah Luwu Bugis-Makassar merdeka, maka selesailah Republik Indonesia. Ingat bahwa negara Indonesia Timur beribu kota di Makassar. Itu adalah catatan sejarah penting,” ujar Ryan Latief dengan tegas.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga kesatuan wilayah Sulawesi Selatan agar skenario disintegrasi tidak pernah terjadi. “Kita harus mengantisipasi hal tersebut secara serius. Jangan sampai Makassar dan Sulawesi Selatan memproklamerkan diri untuk merdeka. Sebab, jika itu terjadi, maka bubarlah negara Republik Indonesia,” tambahnya.
Pernyataan Ryan Latief tersebut selaras dengan fakta geografis bahwa Sulawesi Selatan merupakan titik pusat simetri bentangan alam Indonesia. Bahkan, tim pemetaan modern telah mengonfirmasi bahwa Dusun Umpungeng di Kabupaten Soppeng memegang predikat sebagai titik tengah geografis (center point) Nusantara, yang membentang dari Sabang sampai Merauke serta dari Miangas hingga Pulau Rote.
Perbedaan Titik Tengah Geografis dan Garis Khatulistiwa
Masyarakat perlu memahami bahwa penetapan Umpungeng sebagai pusat simetri berpatokan pada perhitungan ilmiah geodesi yang akurat:
-
Titik Tengah Geografis (Center Point): Ahli geodesi menghitung titik ini berdasarkan perpotongan garis diagonal dari empat koordinat terluar Nusantara. Wilayah Indonesia secara astronomis membentang dari 6° Lintang Utara (LU) hingga 11° Lintang Selatan (LS). Karena wilayah Nusantara lebih mendominasi belahan bumi selatan, titik berat geometris jatuh pada koordinat 4° 25′ LS dan 119° 54′ BT di Umpungeng.
-
Garis Khatulistiwa (0°): Garis khayal ini membagi bumi secara horizontal menjadi Belahan Utara dan Selatan, serta melintasi Pontianak hingga Pasaman. Meskipun terkenal, garis khatulistiwa bukanlah titik pusat simetris jika menghitungnya dari ujung selatan Indonesia di Pulau Rote.
Keunikan Budaya dan Kesesuaian Sains Modern
Selain bukti ilmiah, kearifan lokal masyarakat sejak masa lampau sebenarnya telah mengakui Umpungeng sebagai pusat wilayah. Di kawasan ini, masyarakat Bugis Soppeng menyucikan situs batu megalitikum yang mereka sebut Posi Tanah (Pusat Bumi). Sejak ratusan tahun lalu, kosmologi lokal sudah menempatkan kawasan pegunungan ini sebagai poros bumi.
Pada akhirnya, perhitungan sains modern kini memperkuat kebenaran kosmologi tradisional tersebut. Penelitian geografis membuktikan bahwa pusat simetris dari bentangan batas wilayah terluar NKRI memang berdiri tepat di atas situs adat Umpungeng. Oleh sebab itu, menjaga Sulawesi Selatan berarti menjaga jantung penyeimbang keutuhan Indonesia.
Comment