Taruna Ikrar di Unhan RI: Tanpa Kemandirian Obat, Pertahanan Negara Pertaruh Kedaulatan

Taruna Ikrar di Unhan RI: Tanpa Kemandirian Obat, Pertahanan Negara Pertaruh Kedaulatan

BOGOR ,BERITA-SULSEL.COM — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. menegaskan bahwa kemandirian farmasi menentukan kedaulatan bangsa. Menurutnya, sektor farmasi tidak lagi sekadar urusan kesehatan masyarakat, melainkan benteng strategis pertahanan negara.

Taruna menyampaikan pandangan tersebut saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam The 6th International Conference on Pharmaceutical Sciences and Military Pharmacy (ICOPMAP) 2026. Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) menggelar konferensi internasional ini bersama Indonesian Military Pharmacy Association di Kampus Bela Negara, Bogor, Jawa Barat.

“Ketahanan kesehatan merupakan bagian inti dari ketahanan nasional. Negara yang kuat harus mampu melindungi rakyatnya saat menghadapi pandemi, bencana, maupun krisis kesehatan global,” tegas Taruna.

Selain itu, ia mengingat kembali pelajaran penting masa pandemi COVID-19. Ketergantungan terhadap impor obat, vaksin, dan bahan baku kesehatan dapat membawa kerentanan fatal bagi keselamatan warga. Oleh sebab itu, Indonesia wajib mempercepat riset, produksi dalam negeri, dan hilirisasi inovasi obat.

Dalam forum tersebut, Dekan Fakultas Farmasi Unhan RI Prof. Yahdiana turut menekankan pentingnya sinergi keilmuan. Konferensi ini memfasilitasi kalangan akademisi, peneliti, praktisi, hingga regulator untuk merumuskan jawaban atas tantangan kesehatan dan pertahanan masa depan.

Regulasi Adaptif Mengikuti Inovasi

Selanjutnya, Taruna menyoroti lonjakan teknologi kesehatan modern seperti precision medicine, terapi gen, hingga kecerdasan buatan (AI). Ia menilai perubahan cepat ini menuntut lembaga pengawas untuk bertindak lebih fleksibel namun tetap ketat.

Oleh karena itu, BPOM terus memperkuat sistem regulasi berbasis sains. Langkah ini bertujuan agar aturan hukum melancarkan inovasi lokal tanpa mengorbankan standar keamanan dan mutu produk.

“Kita memerlukan ekosistem yang menghubungkan laboratorium riset langsung ke pasien. Akademisi meneliti, industri memproduksi, pemerintah memfasilitasi, dan BPOM memastikan keamanan produknya,” tambahnya.

Sinergi Tiga Pilar Demi Kedaulatan

Lebih lanjut, Taruna mengapresiasi Unhan RI yang mengaitkan farmasi dengan doktrin pertahanan modern. Menurutnya, konsep pertahanan masa depan memuat cakupan yang jauh lebih luas dari sekadar alutsista tentara.

Ia menargetkan forum ICOPMAP 2026 sanggup melahirkan kerja sama konkret. Bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah, ilmuwan unggul, serta kapasitas industri yang siap berkembang.

“Ketika Indonesia mampu meneliti, memproduksi, dan mengawasi kebutuhan obatnya secara mandiri, saat itulah kita berhasil mengunci kedaulatan bangsa secara penuh,” pungkas Taruna.


Comment