Progresifitas Mahasiswa Ditengah Cengkeraman Global

Oleh : Ahlan Mukhtari Soamole

Ahlan Mukhtari Soamole
Ahlan Mukhtari Soamole

Ditengah hiruk pikuk persaingan global. Ancaman-ancaman dalam menerpa kehidupan suatu individu maupun kelompok dapat terjadi secara tak menentu. Manifestasi dari ancaman tersebut misalnya dikenal dengan pertarungan persaingan sumber daya manusia maupun secara eksklusif yakni pertarungan dalam pemasaran yang mendahulukan suatu nilai kreatifitas atau inovasi-inovasi. Yang pada gilirannya tidak terlepas dari sentuhan kreatifitas manusia.

Dari pertentangan-pertentangan tersebut akan melahirkan kekalahan-kekalahan maupun dalam kontes tersebut dapat pula melahirkan yang menang dalam pertarungan itu.

Kehidupan pada abad ke-20 ini. Menyimpan berbagai hal kerumitan maupun suatu yang masih jauh dari perkiraan serta praduga manusia. Namun, masih ada upaya-upaya perhatian penuh yang diberikan oleh para pemimpin dunia khususnya pemikir dalam menyikapi problems kontemporer. Salah satu cara atau pola dalam meminimalisir big problems tersebut ialah, menyangkut dengan hajat hidup masyarakat dunia. Khususnya di Indonesia. Yaitu membangun pendidikan melalui lembaga-lembaga terkait.

Dengan pendidikan tersebut mereka dibekali berbagai hal yang menguatkan daya kreatifitas serta intensitas dalam menguasai ilmu pengetahuan teknologi.

Di Indonesia banyak terdapat perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Data dari PDDIKTI menyebutkan bahwa terdapat 370 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Sedangkan untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tercatat sebanyak 4.043 perguruan tinggi. Begitu pula dengan jumlah dosen.

Menurut rekap nasional semester 2015/2016 genap oleh PDDIKTI disebutkan bahwa jumlah dosen perguruan tinggi negeri hanya sebanyak 90.742 dosen. Angka yang cukup kecil jika dibandingkan dengan dosen perguruan tinggi swasta yang berjumlah 160,159.

Ada pula data berupa grafik yang merepresentasikan jumlah perguruan tinggi swasta maupun negeri di Indonesia.

Paradigma ke arah pendidikan di Indonesia, telah mengalami deformasi atau perubahan bentuk dari cara pandang pendidikan sebagai, bentuk perubahan sosial namun telah mengalami penurunan makna sehingga pendidikan menjadi sarana pembangunan ekonomi bukan lagi sebagai perubahan sosial.

Namun, tak pelak lagi menghindari konsep baru pada masa kontemporer ini. Justru kita harus menerima dengan terbuka paradigma baru dalam pendidikan yakni pendidikan sebagai agen pertumbuhan ekonomi yakni secara terperinci ialah teknokratik.

Setelah jauh perkembangan pendidikan di Indonesia, Indonesia mengalami berbagai pertentangan gejolak dalam negeri. Akibat daripada masih lemahnya eksistensi pendidikan sebagai wadah membina, mendidik dan mencerdaskan kehidupan bermasyarakat.

Sejarah mencatat bahwasannya para pelajar atau mahasiswa yang pada masa dahulu sejak abad ke-20 dan abad ke-21 ini. Melahirkan mahasiswa-mahasiswa militan dan progresif. Akibat daripada pendidikan yang berdasar pada kepentingan politik baik secara internal lembaga maupun secara umum penguasaan oleh negara.

Yang perlu diketahui oleh pembaca. Seorang sejarahwan asal Australia Max Lane, yang melakukan penelitian di Asia khususnya di Indonesia, menariknya sejarah berkaitan dengan Indonesia yang ditulis dalam bukunya UNFINISHED NATION Pada masa kepemimpinan Soekarno presiden Indonesia pertama dengan pemikiran revolusi nasionalnya. Penuh dengan konfrontasi berbagai pro dan kontra. Dalam buku tersebut diutarakan mengenai kontra revolusi.

Sejak pasca kemerdekaan militerisme sangat dominan dalam melakukan berbagai pengawasan serta perlawanan terhadap lembaga maupun organisasi yang berwatak serta berpandangan kiri. Hal itu memunculkan berbagai tanda tanya besar. Persoalnnya masalah tersebut bertalian dengan para intelektual maupun aktivis-aktivis pada saat itu. Dikisahkan dalam buku tersebut bahwa pembunuhan massal yang dilakukan oleh angkatan darat dan milisi Islam sayap-kanan sekarang sudah didokumentasikan dalam beberapa buku.

Kebanyakan dari orang-orang tersebut adalah pemimpin-pemimpin, para aktivis, dan pendukung salah satu komponen atau lainnya dari sayap kiri Soekarno menjadi pemimpin. Banyak yang dibunuh, mati secara mengerikan, sebagai bagian dari kampanye teror. Mereka dipenggal kepalanya, dikeluarkan isi perutnya, diseret dibelakang truk atau kalau tidak, dengan kejam dibunuh. Kebanyakan pengamat memperkirakan bahwa sekitar 500 ribu sampai 2 juta orang dibantai. Termasuk para aktivis-aktivis.

Perlawanan-perlawanan yang dilakukan mahasiswa intelektual maupun para aktivis saat itu merupakan upaya melakukan pemberontakan terhadap konservatif baik pemerintahan yang konservatif maupun dosen-dosen yang konservatif.

MELAWAN KONSERVATISME PENDIDIKAN

Upaya-upaya membina generasi atau sumber daya manusia sebagaimana menjadi suatu keharusan dalam pendidikan. Namun tak seimbang dengan hasil yang didapatkan oleh masyarakat ilmiah kampus selama ini.

Sentuhan atau stimulus didikkan yang diberikan justru secara kompherensif memiliki kepentingan semata. Kepentingan mau menguasaai para mahasiswa oleh dosen maupun birokrasi kampus.

Perjalanan pendidikan yang sudah berlangsung lama menimbulkan berbagai pertanyaan besar terhadap bangsa di Indonesia sistem apakah yang dipakai dalam perguruan tinggi sistem yang mengedepankan pembaharuan sesuai dengan dinamika perkembangan zaman. Sistem yang memberikan kebebasan kefilsafatan seseorang dalam mengungkap ketidakadilan serta persoalan bangsa saat ini. ? ataukah sistem yang menguntukkan seorang atau kelompok semata. Khususnya dosen atau birokrasi pendidikan tersebut.

Ajaran pendidikan kini dilingkupi dengan berbagai stigma atau mindset bila mahasiswa hanya diperuntukkan dalam persaingan dunia atau pasar. Pemikiran yang disandarkan tersebut akan bertentangan dengan tanggung jawab seorang intelektual progresif. Bahwasannya, mahasiswa sangatlah berperan dalam situasi masyarakat kelas ke bawah atau masyarakat tertindas. Gerakan-gerakan mahasiswa progresif itulah diketahui sebagai proses perubahan sosial.

Masa kini sulit ditemukan yang secara de fakto mahasiswa otentik maupun birokrasi kampus yang bermental didikkan yang manusiawi.

Melepaskan kepentingan pribadi, penguasaan atas mahasiswa baik secara materil maupun non materil. Hal itulah, yang selama itu memunculkan propaganda-propaganda dalam institusi di Indonesia. yang pada gilirannya mengalami degradasi kemanusiaan atau dehumanisasi.

AKTIVIS GADUNGAN DAN AKTIVIS OTENTIK

Seorang mahasiswa dikenal sebagai seorang yang menyampaikan aspirasi rakyat terhadaap pihak terkait. Namun wajah baru aktivis di Indonesia pada masa kontemporer ini ada dua yakni aktivis gadungan dan aktivis otentik.

Sedikit representasi atau gelitik terhadap keontetikkan aktivis. Kita ketahui pada masa-masa tahun 1965, terkenal sosok-sosok aktivis misalnya Soek Hoe Gie dan Ahmad Wahib. Kemudian masa-masa 1997 dan 1998 ada pula tokoh-tokoh aktivis sebahagiaan yang masih mempertahankan idealismenya. Oleh karena itu, mereka dikenal sebagai aktivis yang betul-betul menyampaikan aspirasi rakyat terhadap pemerintah. Dan pertaruhkan semangat jiwa raga untuk rakyat.

Anehnya kini masa abad ke-21. Khususnya di Indonesia terdapat banyak aktivis tak lain ialah aktivis gadungan aktivis gadungan dalam perspektif penulis ialah aktivis yang hanya memperdulikkan kepentingannya di kampus. Aktivis gadungan bukanlah menyampaikan aspirasi rakyat atau menyangkut persoalan seluk beluk rakyat di Indonesia. Melainkan aktivis gadungan hanyalah mengurus hal-hal menyangkut administrasi kampus, spp, kkn kemudian secara mendasar hedonisme dan elite kampus.

Selain daripada itu jarang mereka lakukan berbagai konstelasi di luar sana untuk mempertahankan keontetikkannya. Sebenarnya mudah dibuktikan, kalau dalam memahami pengetahuan aktivis secara menyeluruh ialah kita dapat mengetahui peran mereka sebagai Intelektual sekaligus Akademis. Artinya selain daripada mengurus atau melawan berbagai kebijakan serta ketidaksesuaian sesuatu di kampus dengan seharusnya yang dapat dikatakan rasional. Mereka pula melakakuan tindakan kepedulian responsif dengan mendahulukan kepentingan masyarakyat secara menyeluruh tanpa mengenal kelas.

REFLEKSI KRITIS WUJUD PROGRESIF PENDIDIKAN

Kondisi Indonesia yang masih mengisahkan kisah dramatis, akibat pergerakan mahasiswa dalam melawan hegemoni serta despotik pemerintah seperti, dijelaskan di atas tersebut. Hal itu mencerminkan bahwa di Indonesia pemahaman yang terkonstruk hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah kepentingan politik semata.

Namun, bila berpikir secara universal, pandangan para ahli dalam melihat pendidikan saat ini memang telah bergeser. Mahasiswa maupun kampus sudah menjadi suatu instrumen yang disiapkan untuk dapat bersaing di pasar guna memenuhi rencana besar para pengontrol dunia baik, politik maupun ekonomi. Hal tersebut menjadikan watak pendidikan kita bersifat kapitalis dan teknokrat semata.

Dalam meningkatkan kekuatan persaingan seseoraang tersebut. Seharusnya ada suatu penerapan sistem pendidikan yang betul-betul mengupayakan kemajuan secara berarti. Model penerapan yang mendasar ialah kembali membangun konsep pendidikan kefilsafatan metodolgi seseorang. Sehingga, mampu menelaah berbagai akar persoalan yang terjadi di dunia saat ini. Yang pada gilirannya kita tidak menjadi pasif atau pekerja yang dikendalikan ke mana-mana, yang hanya memenuhi usaha atau kepentingan ‘’mereka’’ semata. Melainkan kita dapat berperan sepenuhnya bahkan, dapat berkorespondensi dengan orang-orang tertentu dalam cengkeraman dunia global saat ini.

Sebaliknya, masyarakat di indonesia sendiri. Sudah seharusnya konsisten dengan menjalankan sistem tersebut sebaaik-baaiknya untuk mencapai hasil signifikan dengan tendensi menghasilkan generasi atau sumber daya manusia, responsif dan daya nalar, tanggap cukup tinggi atas bangsa-bangsa lain di dunia. bila di perbandingkan secara fundamental. Dan perlu diketahui sebagaimana konfrontasi tersebut berlaku umum di berbagai teritori maupun belahan dunia.


Comment