Dari Bilik Suara RT/RW ke Visi Makassar Mulia

Adimitra Setyawan, ST, MM

‘Bertanding, Bersanding, dan Berkarya’: Pesta Demokrasi Rakyat di Lorong Kota 

Oleh : Adimitra Setyawan, ST, MM
Eks Bendahara KNPI Sulsel

Fenomena yang menggelora di hampir setiap lorong dan sudut Kota Makassar belakangan ini bukanlah soal politik tingkat nasional, melainkan getaran pesta demokrasi yang paling membumi: Pemilihan Ketua RT dan RW secara serentak. Dinamika ini, yang mencapai puncaknya menjelang hari pencoblosan, menjadi cerminan unik dari partisipasi sipil yang hidup dan bersemangat.

Ini bukan sekadar hajatan memilih pengurus lingkungan; ini adalah momentum krusial bagi lapisan masyarakat untuk memilih instrumen-instrumen yang akan menyuarakan aspirasi mereka, dari persoalan sampah hingga kebutuhan infrastruktur mikro, ke jenjang pemerintahan selanjutnya. Pemilihan langsung ini adalah wujud nyata dari upaya Walikota dan Wakil Walikota untuk melahirkan tokoh-tokoh masyarakat sejati yang benar-benar lahir dan dipilih oleh rakyatnya sendiri.

Menakar Makna Ketokohan: Lebih dari Sekadar Insentif

Substansi mendasar dari seorang Ketua RT dan RW sejatinya adalah ketokohan. Mereka adalah figur yang dihormati dan disegani, bukan karena pangkat atau jabatan formal, melainkan karena tutur kata dan perilaku yang membawa ketenangan, solusi, dan kebijaksanaan di tengah warga.

Sayangnya, dalam hiruk pikuk kontestasi, kadang kita lupa esensi ini. Para kandidat seyogyanya harus siap mewakafkan dirinya dalam kerja-kerja sosial kemasyarakatan, mengemban amanah dengan tulus, dan melayani tanpa pamrih. Mereka tidak bertanding untuk mendapatkan insentif, melainkan bertanding untuk memenangkan kepercayaan masyarakat dan amanah mulia dalam menjalankannya.

Ketika motivasi bergeser dari pengabdian ke insentif, fungsi utama RT/RW sebagai jembatan aspirasi akan tereduksi menjadi sekadar birokrasi kecil. Karenanya, pemilihan langsung adalah langkah terbaik untuk memfilter dan memilih mereka yang benar-benar memiliki DNA kepemimpinan sosial dan kesiapan berkolaborasi.

Kolaborasi Terstruktur: Jantung Visi Makassar Mulia 

Langkah strategis penyelenggaraan pemilihan langsung ini menegaskan pemahaman bahwa untuk mewujudkan visi dan misi pemerintah—terutama menuju Makassar Mulia—diperlukan kolaborasi yang terstruktur dan masif.

Pemerintahan kota, yang dipimpin oleh Walikota sebagai Pemegang Estafet Kepemimpinan tertinggi, tidak akan mampu bergerak efektif tanpa dukungan dari satuan terkecil masyarakat: yakni RT dan RW. Mereka adalah ujung tombak yang paling dekat dengan denyut nadi masyarakat. Mereka adalah mata, telinga, dan tangan pemerintah di lorong-lorong.

Bagi masyarakat Kota Makassar, hari pemilihan ini adalah kesempatan emas untuk memilih jembatan aspirasi yang paling mereka percayai. Jembatan yang mampu meneruskan keluhan, ide, dan harapan mereka dengan integritas dan kecepatan.

Pasca-Kontestasi: Saatnya Bersanding dan Berkarya

Kepada seluruh kontestan, pesan intinya jelas: Selamat berkompetisi!

Apapun hasil yang diperoleh, mereka yang telah berani bertanding telah membuktikan diri sebagai orang-orang terbaik dan paling peduli di wilayahnya. Kekalahan bukanlah akhir dari pengabdian, dan kemenangan bukanlah legitimasi untuk berdiri sendiri.

Setelah hiruk pikuk pemilihan usai, saatnya semua pihak untuk BERSANDING dan BERKARYA.

Kalah ataupun menang, kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk mendukung seluruh program Pemerintah Kota Makassar. Tujuan akhirnya satu: menciptakan Masyarakat Kota Makassar yang Sehat, Sejahtera, Aman, dan Bahagia. Kontestasi berakhir di bilik suara, namun kerja bakti sosial dan kolaborasi abadi harus terus berlanjut.

Mari kita pastikan bahwa semangat ‘Bertanding, Bersanding, dan Berkarya’ tidak hanya menjadi jargon, tetapi etos kerja yang menggerakkan setiap level kepemimpinan di Makassar.


Comment