SINGAPURA, BERITA-SULSEL.COM — Kepala BPOM RI, Prof. Taruna Ikrar, melakukan langkah diplomasi strategis di Singapura untuk memperkuat hilirisasi industri kesehatan nasional. Dalam pertemuan bersama Duta Besar RI untuk Singapura, Hotmangaradja Pandjaitan, ia menegaskan bahwa potensi ekonomi sektor pengawasan BPOM mencapai angka fantastis, yakni Rp6.000 triliun.
Angka tersebut mencakup sektor obat-obatan, makanan, kosmetik, hingga suplemen kesehatan yang menjadi kekuatan ekonomi nasional. Taruna Ikrar menekankan bahwa BPOM kini tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga bertindak sebagai akselerator pertumbuhan industri agar mampu menembus pasar global.
“Nilai ekonomi sektor ini mencapai Rp6.000 triliun. Kami harus menjaga kualitasnya sekaligus mendorong produk dalam negeri agar semakin kompetitif di level internasional,” ujar Taruna Ikrar di Kantor KBRI Singapura, Selasa (21/4/2026).
Kolaborasi Strategis Dubes RI dan BPOM
Duta Besar Hotmangaradja Pandjaitan menyambut baik inisiatif tersebut dengan komitmen penuh. Ia siap memfasilitasi para pelaku usaha di Singapura untuk memperluas investasi mereka ke Indonesia melalui skema hilirisasi.
Menurut Hotmangaradja, Singapura memiliki kekuatan riset biomedis dan ekosistem inovasi kelas dunia yang sangat mumpuni. Selain itu, pengakuan global BPOM melalui status WHO Listed Authority (WLA) membuat posisi Indonesia semakin kredibel di mata investor global.
“Indonesia kini semakin kompetitif. Dengan regulasi BPOM yang berstandar dunia, kami optimis dapat menarik lebih banyak investor sektor kesehatan ke tanah air,” tegas putra pahlawan revolusi D.I. Pandjaitan tersebut.
Konsep ABG Sebagai Fondasi Inovasi
Dalam kunjungan tersebut, Taruna Ikrar yang didampingi Staf Khusus dr. Wachyudi Muchsin juga memaparkan konsep ABG (Academic, Business, Government). Ia menilai sinergi tiga pilar ini menjadi kunci utama untuk mempercepat inovasi industri kesehatan nasional.
Melalui pendekatan ini, perguruan tinggi (Academic) bertugas melahirkan inovasi berbasis sains. Selanjutnya, sektor industri (Business) memperkuat produksi dan komersialisasi. Sementara itu, pemerintah (Government) memastikan regulasi tetap adaptif dan berstandar internasional.
“Negara tidak bisa bekerja sendiri. Kampus melahirkan inovasi, industri mempercepat hilirisasi, dan pemerintah menjamin kepercayaan publik melalui regulasi yang kuat,” ungkap Taruna Ikrar.
Pertemuan ini menjadi momentum krusial bagi diplomasi ekonomi Indonesia. Dengan fondasi WLA dan strategi hilirisasi yang matang, Indonesia kini tengah bergerak menjadi pusat kekuatan baru industri kesehatan global, bukan lagi sekadar menjadi pasar konsumsi.
Comment