Mencoba Memahami Nalar Birokrasi Pada Sektor Kesehatan, Ribetnya Layanan BPJS

Oleh : Alexsander Labobar

Tadi pagi, Jumat (24/3/3017) saya membawa anak ke salah satu rumah sakit di Makassar, anaknya baru berusia satu bulan karena waktu lahir terkontaminasi dengan ketuban ibunya, sehingga pernapasan anak terganggu. Malam sebelum ke rumah sakit keluar lendir di hidung dan di mulut, ananknya sudah tidak mau menyusu, sehingga paginya kami berinisiatif ke RS. Setibanya di rumah sakit, saya ke petugas front office untuk mendaftar, petugas front office menanyakan beberapa hal kepada saya.

“Petugas: sakitnya anaknya apa pak..?

“saya: anaknya keluar lendir di hidung dan di mulut karena waktu lahir terkontaminasi dengan ketuban ibunya, sambil ibunya mengendong anak kami disamping saya.

“Petugas: daftar umum atau BPJS pak?

“Saya: Daftar BPJS pak, karena emang anaknya saya sudah terdaftar di BPJS dan saya sudah bayar iuran bulanan buat anaknya.

“Petugas: Ada rujukanya gak pak?

“Saya: tidak ada pak, karena sebelumnya saya sudah ke klinik minta rujukan, tapi waktu itu untuk imunisasi dan maksud saya sekalian periksa kondisi bayi kami, tapi petugas klinik bilang langsung saja ke RS.

“Petugas: Gak bisa pak kalau anaknya tidak dalam kondisi darurat kecuali mendaftar umum.

“Saya: Kliniknya buka sore hari pak, masa harus nunggu lagi sebentar sore sementara kami sudah di RS, terus kita juga gak tahu apa yang akan terjadi kalau menunggu sampai sore nanti, bukannya untuk mengetahui darurat atau tidak pasienya harus diperiksa terlebih dulu pak.

Petugas RS kemudian mengarahkan ke petugas BPJS. Petugas BPJS penjelasanya pun sama bahwa bayinya harus dalam kondisi darurat baru bisa dilayani. Jika tidak ada surat rujukanya.

Saya bilang ke petugasnya, bukanya yang mengetahui anak ini darurat atau tidak dokternya. Apakah tidak sebaiknya diperiksa terlebih dahulu, lagi pula kami, beserta bayinya sudah di RS masa harus kembali lagi nunggu sore hari di klinik, karena kliniknya buka sore hari..? atau nunggu sampai kondisi bayinya darurat baru dibawa ke RS, sementara kami kesini karena kami melihat ada situasi yang lain dari anak kami.

Perdebatan sengit terjadi diantra kami, saya berargumen dengan nalar sederhana bahwa anak ini ada kelainan dan kami pun sudah di RS tapi petugas tetap ngotot tidak bisa, karena bayinya belum dalam kondisi darurat dengan menjelaskan bahwa aturanya sepert itu, ini mekanismenya sudah seperti ini, bla…bla, dan seterusnya. Itu lagi mekanisme dibuat sudah mempertimbangkan segalanya, lanjut penjelasan petugan BPJS

Saya bilang ini justru yang aneh ini kondisi realnya bahwa ada pasien yang kami orang tuanya lihat ada kondisi berbeda dari biasanya, lagi pula klinik yang anak ini terdaftarkan baru buka disore hari, bukanya penanganan dini jauh lebih baik demi menjaga hal-hal yang lebih parah, masa hanya karena mekanisme birokrasinya seperti itu anaknya ditunggu sampai parah dan menunggu sampai keadaan darurat baru ada penanganan.

Buat apa kami jauh-jauh ke RS jika keadaan anak kami baik-baik saja. Kami sebagai orang tua tidak mengingikan anak kami masuk RS, tetapi kami berupaya mengambil tindakan preventif lagi pula mana tau kami bahwa anak ini sudah dalam kondisi parah atau tidak secara medis.

Inikah sistem yang baik itu, bukankan sistem dibuat untuk kemudahan dan kemanfaatan manusianya, tapi kenapa malah yang diutamakan adalah sistemnya, manusianya ditunggu sampai darurat dulu baru dilayani demi menjaga sistemnya berjalan baik. Apalagi pasienya anak bayi yang tentu tidak mampu menjelaskan kondisnya bahwa dia dalam keadaan darurat.

Saya sampai berdebat hebat dengan petugas BPJS, ini logika apa sebenarnya, aneh menjaga sistem tapi mengorbankan pasienya.
Manusia-manusia modern sudah seperti robot, tunduk pada sistem, tidak lagi perpijak pada nilai kemanusiaan yang memudahkan.
Apa salahnya jika pasienya diperiksa terlebih dahulu, nanti setelah ada pemeriksaan baru akan diketahui apakah kondisi pasienya sudah darurat atau tidak lagipula kan pasienya sudah di RS.

Tidak perpikirkah kita bahwa mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Atau pasien yg parah itu lebih disukai karena ada obat dan jasa dokter yang bisa diklaim ke BPJS.

Saya jadi berpikir kalau RS itu adalah bisnis orang sakit, semakin banyak orang yang sakit semakin bagus karena ada transaksi bisnis didalamnya.

Para dokter bukanya diarahkan pada riset-riset untuk pencegahan penyakit, tetapi lebih pada upaya penindakan dengan kata lain semakin banyak yang sakit semakin bagus karena pemasukan disektor kesehatan mengalami peningkatan.

Managemen kesahatan di negeri ini tidak lagi mendahulukan upaya pelayanan yang maksimal, tetapi lebih mendahulukan aspek administrasi formal demi kepentingan transaksi bisnis untuk klaim penggantian finansial.

Tidak masalah kita pada tertib administrasi, malah itu jauh lebih baik.

Apakah lebih utama aspek administratif ketimbang mendahulukan pelayanan dalam situasi tertentu…?

Paradigma yang terbangun dalam pelayanan di negeri ini adalah negara mengejar pendapatan dari segala sektor termasuk sektor kesehatan maka tidak heran jika manusia-manusia yang bekerja disektor kesehatan perpikir sangat formalistis

Keresahan dari sebuah sistem pelayanan dinegeri ini.

Semoga ada perubahan, bahwa apapun itu kemanusiaan lebih utama dari segalanya.

Makassar, Jumat 24 Maret 2017


Comment