Sampah di Bone Punya Nilai Jual, Taiwan Minta 100 Ton Perbulan

BONE, BERITA-SULSEL.COM – Pernah merasakan jadi pengangguran, Andi Rusli, bertekad merubah nasib diri dan orang-orang sekitarnya dengan membuka pengelolaan sampah yang ditekuninya sejak setahun yang lalu.

Berbekal pengalaman merantau ke Pulau Batam, hingga akhirnya bertemu seorang warga asing yang mengajaknya bekerja di sebuah pabrik plastik di Korea Selatan.

Tak hanya bekerja, Andi juga sempat mengenyam pendidikan non formal yang mempelajari khusus tentang pengolahan sampah khususnya plastik.

Kembali ke Batam, Andi kemudian mendirikan sebuah perusahaan kecil yang bergerak dibidang pengolahan sampah hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan membuka lapangan kerja, tentu saja dibidang pengolahan sampah.

Mengumpulkan sampah 45 hingga 50 ton, Andi pun melayangkan proposal kepada pemerintah agar dibantu fasilitas mesin pencacah sampah dan mobil pengangkut sampah, sayang sampai detik ini belum mendapat respon dari pemerintah.

Tak putus asa, Andi mencoba mencari pinjaman kepada sanak keluarga dan kerabat untuk mewujudkan impiannya mendirikan pabrik serta membeli mesin pencacah.

“Mungkin saya buat pabrik bulan depan, itupun pinjam uang sama keluarga karena kalau di bank banyak syarat dan harua pakai jaminan, sementara saya belum punya aset, tanah ini saja milik keluarga saya sewa” kata Andi.

Menurutnya, Bone sehat yang diprogramkan pemerintah tidak akan terwujud jika tidak ada yang mengelola sampah.

Kini Andi memiliki beberapa bank sampah, salah satunya di Desa Cumpiga Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone. Pekerja Andi pun sudah mencapai 70 orang dan mereka yang rajin mampu memperoleh upah hingga Rp 2 juta perbulan.

“Saya tidak terlalu mengejar hasil tapi saya bisa bantu banyak orang, pekerja saya biasanya diberi sembako dulu sebelum turun. Saya hanya membina masyarakat dan membantu agar mereka punya penghasilan” lanjutnya.

Bagi Andi, semua jenis sampah punya nilai, bahkan bekas karung hancur pun bisa dikirim ke Surabaya untuk dijadikan bahan baku pembuatan terpal.

Saat ini, Andi baru memiliki mesin pengepress hingga hasil penjualan tidak maksimal. Terakhir, Andi mendapat tawaran kerjasama pengolahan sampah dari Taiwan, dan Andi diharuskan mengirim sampah sebanyak 100 ton perbulan kesana.

“Itu akan susah terpenuhi karena kami belum punya mesin pencacah” keluhnya. (eka)


Comment