BONE, BERITA-SULSEL.COM — Mengikuti perkembangan kasus pemukulan oknum TNI, La Sunardin, terhadap warga Desa Pasempe Kecamatan Palakka Kabupaten Bone, Wawan (19), aktivis yang juga mantan Ketua HMI Cabang Bone, Muh Ajis, angkat bicara.
Menurutnya, peristiwa kecelakaan lalu lintas yang berlanjut pada penganiayaan oleh oknum TNI terhadap warga, seharusnya wajib dilihat secara objektif.
“Kedua peristiwa diatas adalah hal yang berbeda, selanjutnya unsur pimpinan TNI harus mendapatkan informasi yang berimbang agar tidak muncul dugaan keberpihakan kepada anggotanya, TNI merupakan maruah rakyat, TNI besar bersama rakyat” ujar Ajis.
Dan hal itu menurutnya sesuai tugas pokok TNI yang tertuang dalam Undang-Undang pasal 7 ayat 1 adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan negara.
“Sampai hari ini arogansi masih mewarnai wajah aparat keamanan di negeri ini, baik Tentara Nasional Indonesia maupun Kepolisian Negara Republik Indonesia. Arogansi itu ditunjukkan dengan perilaku melanggar hukum dan melakukan kekerasan di area publik. Perilaku ini menjadi bukti reformasi kultural di lingkungan TNI dan Polri belum berhasil” nilainya.
Ajis menekankan adanya sikap netral oleh pimpinan TNI agar tidak terkesan melindungi anggotanya yang ketahuan berbuat salah, apalagi jika korban hanyalah masyarakat biasa. (eka)
Comment