SLB As’adiyah Soppeng Didik Anak dengan Pendekatan Emosional

Junaeda
Junaeda

BERITA-SULSEL.COM – Mendidik anak berkebutuhan khusus memiliki tantangan tersendiri. Mereka yang menjadi tenaga pengajar atau guru harus memiliki pribadi yang baik, khususnya kesabaran esktra. Setiap anak memiliki karakter berbeda.

Hal ini diungkapkan Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) As’adiyah, Cabbenge, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Jumat, (21/10/2016). Menurutnya, dalam mendidik anak, setiap guru harus melakukan pendekatan emosional. Polanya juga tidak langsung, harus dilakukan
secara bertahap.

Tak hanya itu, jelas Junaeda, setiap guru harus menganggap peserta didik mereka seperti anak sendiri. “Semua anak disini berbeda karakter, terutama anak autis. Mereka paling susah diberikan pelajaran dan pemahaman. Namun, dengan kesabaran menghadapi mereka, serta keterbukaan fikiran menerima kondisinya, maka setiap anak akan bisa menjadi lebih baik,” ujarnya.

Anak berkebutuhan khusus, ujar Junaeda, memiliki kelebihan khusus. Mereka cenderung lebih cerdas dalam bertindak dibandingkan dengan kebanyakan anak yang lain. Namun, hal tersebut bisa terjadi jika mendapat didikan yang tepat.

Guna mencapai hal tersebut, tambah Junaeda, pihaknya menerapkan beberapa teori dalam mendidik anak berkebutuhan khusus di sekolahnya. Hal paling penting yakni pengawasan, lebih terbuka kepada mereka, serta mengeksplorasi kreativitasnyanya.

Tak hanya itu, tenaga pengajar juga bisa melakukan kerjasama dengan baik dengan semua pihak yang terlibat.”Kami selalu mendampingi anak dengan penuh kasih sayang. Hal yang penting isi waktu luangnya dengan berkreasi dan membuat keterampilan yang akan membantu konsentrasi dan fokusnya,” ujarnya.

Baca Juga

Pencurian Disertai Kekerasan Mulai Marak di Soppeng

Lagi Tabung Elpiji Meledak, Tiga Rumah Hangus, Dua Orang Tewas Terpangang di Soppeng

SLB YPPS Takalala Soppeng jadi Sekolah Favorit Anak Berkebutuhan Khusus

Guna melihat perkembangannya, jelas Junaeda, sebvaiknya melibatkan dokter serta psikolog anak. Hal ini dilakukan agar semua pihak dapat membantu memantau perkembangan sikap, karakter, dan mental anak.

“Dengan pola seperti itu, akan lebih mudah menemukan cara terbaik untuk memberikan didikan bagi anak berkebutuhan khusus,” tutupnya.(Henrik).


Comment