
BULUKUMBA, BERITA SULSEL.COM – Perahu Phinisi adalah perahu yang dikenal dimata dunia yang dibuat di Indonesia, tepatnya Sulawesi Selatan, Kabupaten Bulukumba.
Hingga saat ini, Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba dikenal sebagai produsen Perahu Phinisi. Pengrajinnya tetap mempertahankan tradisi dan budaya dalam pembuatan perahu tersebut.
Dewan Jenderal Gerakan Aliansi Mahasiswa (GAM) Bulukumba, Adhi Puto Palaza, mereka menginginkan dalam hal ini pengrajin perahu Phinisi serta budaya Panrita Lopi harus dijaga dan dilestarikan. Hal ini butuh perhatian khusus pemerintah dengan keseriusan lebih mempromosikan dan mencarikan solusi agar bahan bakunya tetap ada.
baca Juga : Cegah Judi Sabung Ayam, Kapolres Bulukumba Temui Langsung Tokoh Masyarakat Desa
“Kami harap pemerintah Kabupaten Bulukumba memberi perhatian khusus untuk mempromisikan serta mencarikan solusi agar bahan baku tetap ada, bukannya warga asing pemilik modal memperkerjakan orang lokal,” jelas Adhi Puto, Sabtu 18/2/2017 disalah satu warko dibilangan Jalan Sam Ratungi.
Kata Adhi, bahan baku harus terpenuhi, para pengusaha ingin adanya perhatian khusus pemerintah daerah. Saat ini ada tiga orang warga negara asing menjadi pemilik modal yang mempekerjakan orang lokal dalam pembuatan perahu phinisi.
Jika ini terus dibiarkan, jelas Adhi, akan menjadi masalah serius, untuk itu pemerintah harus mengaturnya dengan regulasi agar warga asing dilarang keterlibatannya dalam penjualan serta mempekerjakan langsung masyarakat lokal dalam pembuatan perahu Phinisi.
Baca Juga : Dituding Korupsi, PPAK Minta Legislator NasDem Bulukumba, Muh Tamrin Dinonaktifkan
“Warga negara asing ini tiba-tiba datang, langsung mempekerjakan warga pribumi. Apakah karena dia punya modal besar dan bebas begitu saja, terkesan pembuatan perahu Phinisi yang menginternasional itu bukan murni pengrajin para tangan tangan pribumi Bulukumba, tapi ada campur tangan asing,” tambah Adhi Puto
Hal sama disampaikan Junaedi, Kaderisasi GAM. Kata dia, sebagian besar warga pengrajin perahu Phinisi dirugikan. Mereka sudah sangat resah dengan keadaan ini, namun mereka tak punya daya, mereka juga takut karena negara berlandaskan hukum.
“Yang bisa mereka lakukan hanya diam dan berpangku tangan menunggu ketetapan kebijakan pemerintah sehingga perlu perhatian khusus dari pemerintah daerah agar terlihat jelas murni identitas panrita lopi,” cetus Junaedi.
Bicara Bumi Panrita Lopi Bulukumba, kata Junaedi, pengrajin perahu phinisi harus lahir dan berkembang dari warga pribumi sendiri. Tidak boleh ada campur tangan lain apalagi warga negara asing. (*)
Comment