GOWA, BERITA-SULSEL.COM – Syngenta memberikan informasi dan petunjuk praktik aplikasi herbisida Gramoxone yang aman dan efektif melalui kegiatan product stewardship, sebagai kegiatan yang rutin dilakukan dalam pelatihan petani, Rabu (2/10/2019).
Acara gelar teknologi pertanian ini diikuti oleh 400 orang petani dan dihadiri oleh Maxdeyul Sola (Sekjen Dewan Jagung Nasional), Winarno Tahir (Kontak Tani Nelayan Andalan), Yasin (Praktisi Gulma dan Herbisida), Yenny Meliana (LIPI), Mulyadi Benteng (Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas).
Juga dikunjungi oleh pejabat pemerintah pusat antara lain dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian juga pejabat
daerah, para peneliti, perwakilan organisasi pertanian, dan pemangku kepentingan lainnya di bidang pertanian.
Acara dibuka oleh Midzon Johannis selaku Head of Business Sustainability PT Syngenta Indonesia, Hasrullah (Kepala Desa Pencong), Dinas Pertanian Provinsi yang diwakili oleh Arfain Fai (Kasubdin Prasarana dan Sarana), Freddy Juwono (Kementerian Perindustrian) dan Profesor Dadang (Tim Teknis Komisi Pestisida).
Head of Business Sustainability di PT Syngenta Indonesia, Midzon Johannis mengatakan, bahwa dalam beberapa dekade terakhir perluasan lahan jagung serta produktivitas petani meningkat pesat.
“Hal ini dikarenakan petani menggunakan teknologi bibit unggul serta herbisida yang membuat penanaman lebih cepat dengan tenaga kerja yang jauh lebih sedikit,” katanya.
Penggunaan herbisida juga memungkinkan ekspansi penggunaan lahan yang besar. Kepala Desa Pencong, Hasrullah, dalam sambutannya mengharapkan agar Syngenta terus melakukan terobosan-terobosan teknologi baru bersama petani.
Freddy Juwono, perwakilan dari Kemenperin menegaskan pentingnya upaya-upaya yang dilakukan oleh industri kimia seperti Syngenta untuk selalu hadir dengan teknologi-teknologi baru yang membantu petani.
“Kementerian Perindustrian sangat mendukung dan apresiasi karena semakin minimnya lahan pertanian serta kondisi yang berat seperti lahan miring. Sementara jagung sangat dibutuhkan oleh industri pakan,” tuturnya.
Petani dihimbau agar melakukan sistem agronomi yang optimal untuk mengatasi keterbatasan lahan serta mampu menghasilkan pangan yang beraneka ragam,” jelasnya.
Mengutip sambutan dari Tim Teknis Komisi Pestisida, Profesor Dadang yang menegaskan bahwa saat ini populasi di Indonesia berjumlah 250 juta, dengen pertumbuhan penduduknya 1.3% atau sekitar 3.2 juta per tahun.
Hal ini berdampak terhadap kenaikan kebutuhan pangan seperti beras dan pakan ternak untuk konsumsi daging. Di lain sisi tenaga kerja serta lahan berkurang, namun produktifitas pertanian dituntut tinggi.
Untuk mengatasi ini penting praktek pertanian yang baik dan ‘petani cerdas harus jadi petani yang responsif terhadap teknologi’. Potensi Kabupaten Gowa adalah sektor pertanian dengan sub-sektor tanaman pangan sebagai andalannya.
Kabupaten ini adalah salah satu kabupaten yang memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan pangan di Sulawesi Selatan.
Semoga benih hibrida dan teknologi herbisida Gramoxone dapat tetap digunakan petani untuk meningkatkan produksi pertanian mereka.
Comment