MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pertumbuhan Usaha Mikro Kecil (UMK) di Indonesia. Melalui program SAPA Kampus Berdampak Batch 8, Balai Besar POM (BBPOM) di Makassar berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk memberikan pendampingan nyata kepada pelaku usaha pangan olahan lokal.
Kolaborasi strategis ini melibatkan 14 mahasiswa Unhas yang bertugas sebagai fasilitator pendamping. Selama hampir tiga bulan, para mahasiswa mendampingi 14 UMK yang memproduksi beragam produk kuliner, mulai dari frozen food, sambal, sirup, bawang goreng, minyak kelapa, hingga minuman botanical.
Untuk mengukur sejauh mana efektivitas program ini, BBPOM di Makassar menggelar monitoring dan evaluasi (monev) di Aula Baji Minasa, Kamis (11/6/2026).
Apresiasi Hasil Signifikan
Kepala BBPOM di Makassar, Yosef, menyampaikan rasa puas dan apresiasi yang tinggi terhadap kinerja para mahasiswa. Menurutnya, kehadiran mahasiswa mampu membawa perubahan signifikan pada tingkat kepatuhan pelaku usaha.
“Pendampingan intensif ini terbukti mampu meningkatkan kepatuhan UMK. Sebelumnya, nilai pemenuhan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) mereka masih kurang. Namun, sekarang melonjak menjadi Baik, bahkan ada yang Sangat Baik,” ujar Yosef dalam sambutannya.
Yosef menambahkan bahwa langkah progresif ini berhasil mendorong sebagian besar UMK untuk memperoleh Sertifikat Izin Penerapan CPPOB. Bahkan, beberapa di antaranya telah berhasil mengantongi Nomor Izin Edar (NIE) resmi dari BPOM.
Meskipun BPOM telah menyediakan sistem perizinan berbasis elektronik yang transparan dan cepat, Yosef mengakui bahwa keterbatasan literasi digital serta jumlah personel masih menjadi tantangan di lapangan. Oleh karena itu, kehadiran mahasiswa melalui SAPA Kampus Berdampak menjadi solusi taktis untuk menjembatani kendala tersebut.
“Kami berharap pengalaman ini menjadi nilai tambah bagi mahasiswa saat memasuki dunia kerja atau ketika mereka memilih jalur wirausaha. Pintu rezeki akan lebih terbuka lebar jika mereka mampu berdikari dan membuka lapangan pekerjaan baru,” imbuh Yosef.
Dukungan Keberlanjutan dari Akademisi
Pada kesempatan yang sama, Kepala Subdirektorat Pembelajaran Mandiri Unhas, Prof. Makkarennu, S.Hut., M.Si., Ph.D., menyambut baik hasil positif dari kolaborasi ini. Pihaknya berterima kasih karena BBPOM di Makassar telah memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar langsung di dunia kerja nyata.
“Respons positif dari Kepala Balai dan para mentor tentu menjadi kebanggaan bagi Unhas. Kami berharap program SAPA Kampus Berdampak ini terus berlanjut karena minat mahasiswa sangat tinggi, bahkan kami harus memberlakukan seleksi ketat,” kata Prof. Makkarennu.
Unhas juga menyatakan keterbukaannya terhadap evaluasi dan masukan dari mitra demi menyempurnakan kompetensi mahasiswa agar selalu sejalan dengan ekspektasi industri dan regulasi.
“Unhas senantiasa siap berkolaborasi dengan BPOM. Terutama untuk program-program yang sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi demi meningkatkan kualitas dan daya saing mahasiswa,” pungkasnya.
Sinergi kuat antara pemerintah, akademisi, dan sektor usaha ini membuktikan bahwa integrasi ruang kuliah dengan realitas lapangan mampu melahirkan dampak ekonomi yang konkret. Program ini tidak hanya mencetak generasi muda yang adaptif, tetapi juga mendorong UMK pangan olahan lokal agar lebih berdaya saing di pasar global.
Comment