MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Mewujudkan World Without Waste, Coca-Cola bersama para mitra terus berupaya untuk membantu mencari solusi terkait dengan permasalahan kemasan plastik.
Di Indonesia, Coca-Cola menerapkan visi World Without Waste melalui inisiatif PLASTIC REBORN yang akan menjadi payung dalam berbagai inisiatif keberlanjutan dalam penanganan sampah plastik, Rabu, (16/10/2019) di Makassar.
Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo, pada acara bincang-bincang PLASTIC REBORN 2.0 hari ini di Makassar menjelaskan Di PLASTIC REBORN 1.0 pihaknya mempelajari bahwa dasar pengelolaan sampah yang berkelanjutan adalah pengumpulan limbah kemasan (waste collection) yang tepat dan harus dimulai dari pemilahan di rumah tangga.
“Ini yang menjadi kerangka utama dari ‘PLASTIC REBORN 2.0’ – sebuah program kolaborasi dari para startup penggiat sampah yang akan bersinergi untuk membangun “marketplace” yang lebih efisien untuk sistem persampahan dan daur ulang,” katanya.
‘PLASTIC REBORN 2.0’ berorientasi pada penggunaan teknologi, dengan pendekatan unik akselerasi bisnis berbasis kemasan plastik pasca konsumsi,” lanjutnya.
Selain itu, Chief Operating Officer Ancora FoundationAhmad Zakky Habibie, menjelaskan, tidak mudah bagi kami dan CCFI dalam menyeleksi proposal yang masuk dari para penggiat sampah di Indonesia.
“Kami yakin program kolaborasi di Plastic Reborn 2.0 ini dapat membantu kami untuk mengembangkan bisnis juga dengan dapat memberikan layanan pengelolaan sampah yang terintegrasi, tidak hanya daur ulang sebagaimana telah menjadi fokus kami sebelumnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Chief Executive Officer MallSampah Indonesia Adi Saifullah Putra membeberkan kemasan plastik pasca konsumsi telah menjadi sebuah persoalan yang mendapat perhatian masyarakat global dalam beberapa waktu terakhir.
“Kami ingin dapat menjangkau serta memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas terkait pengelolaan sampah,” ungkapnya.
Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kota Makassar pada tahun 2017-2018 dengan jumlah penduduk kurang lebih 1,5 juta ini pada tahun 2016 menghasilkan jumlah sampah 700 ton perhari, kemasan plastik pasca konsumsi menempati posisi kedua setelah sampah sisa makanan dengan jumlah sebesar 16.29 %.
Jika dilihat dari sudut pandang industri, plastik merupakan bahan baku yang memiliki nilai ekonomi di dalamnya, sehingga memiliki nilai manfaat ekonomi tidak hanya untuk industri tetapi juga untuk masyarakat.
Karena itu sebut Adi, memahami potensi kemasan plastik pasca konsumi serta pengumpulan dan pengelolaan sampah yang lebih tepat dapat bersama membantu mencari solusi untuk mendukung keberhasilan ekonomi sirkular di Indonesia.
Senada dengan itu, General Manager Clean Up Iqra Putra Sanur mengatakan untuk mencapai hal itu kami butuh untuk meningkatkan kapasitas tim dan sistem yang kami bangun di Clean Up melalui kolaborasi Plastic Reborn 2.0,” ungkapnya.
“Kami ingin lebih banyak lagi memberikan manfaat untuk orang banyak, khususnya terkait mengoptimalkan industri pengelolaan sampah,” harapnya.
Saat ini, Clean Up dan MallSampah sedang berkolaborasi untuk membuat fitur pengambilan sampah di aplikasi MallSampah yang dapat di ambil oleh Clean Up, diharapkan ini dapat meningkatkan collection rate dari kedua startup asal Sulawesi Selatan ini.
Comment