MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Riuh rendah tepuk tangan dan wajah-wajah sumringah memenuhi ruangan wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia Makassar hari itu. Sebanyak 110 wisudawan—terdiri dari 82 sarjana Manajemen dan 28 sarjana Akuntansi—resmi menyandang gelar baru.
Namun, di balik euforia pemindahan tali toga, sebuah pesan menohok justru datang dari mimbar orasi ilmiah, mengingatkan bahwa dunia di luar kampus tidak sedang menunggu dengan karpet merah, melainkan dengan ketidakpastian.
Andryan Setyadharma, SE., M.Si., PhD, sang orator ilmiah, tidak berbicara tentang manisnya kesuksesan instan. Ia justru berbicara tentang seni merayakan penolakan.
“Tuhan, Kenapa Bukan Aku?”
Suasana hening seketika saat Andryan menceritakan kisah memilukan tentang tragedi pesawat ulang alik Challenger di Amerika Serikat. Ia mengisahkan seorang guru yang hancur hatinya karena gagal terpilih menjadi astronaut NASA, padahal ia sudah masuk 100 besar dari puluhan ribu pelamar.
“Guru itu berdoa, ‘Tuhan, mengapa bukan aku yang ada di pesawat itu?’,” tutur Andryan di hadapan para wisudawan.
Namun, 73 detik setelah lepas landas, pesawat Challenger meledak di udara. Doa sang guru yang penuh kekecewaan itu terjawab dengan cara yang tak terduga. Ia tidak terpilih bukan karena ia tidak layak, melainkan karena Tuhan sedang menyelamatkan nyawanya.
“Saya bersyukur atas kegagalan-kegagalan saya di masa lalu. Kegagalan tersebut membuat saya menjadi diri saya saat ini,” tegas Andryan, yang kemudian membagikan kisah pribadinya yang berulang kali gagal tes CPNS sebelum akhirnya sukses menjadi dosen dan meraih gelar PhD di New Zealand.
Pesan ini menjadi “tamparan” sekaligus pelukan hangat bagi para wisudawan Generasi Z yang kini menghadapi bayang-bayang ketatnya dunia kerja. Bahwa penolakan kerja nanti, bukanlah akhir dunia, melainkan sebuah redirection (pengalihan arah) menuju rencana yang lebih baik.
Melawan Mitos Steve Jobs
Dalam orasinya, Andryan juga mematahkan romantisasi “putus sekolah” yang sering disandarkan pada sosok Steve Jobs.
“Dari jutaan orang yang tidak sekolah, berapa yang bisa jadi Steve Jobs?” tanyanya retoris.
Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi adalah tentang probabilitas. Ijazah yang digenggam para wisudawan hari ini adalah alat untuk memperbesar kemungkinan hidup layak di tengah persaingan global. Pendidikan adalah jembatan mobilitas sosial yang paling kokoh.
Karakter di Atas Kompetensi
Senada dengan pesan ketangguhan tersebut, Ketua STIE Indonesia Makassar, Dr. Ilham Z. Salle, SE, M.Si, Ak, menekankan bahwa kampus yang dipimpinnya tidak hanya mencetak “robot” penghafal teori.
Dalam sambutannya, Dr. Ilham mengungkapkan bahwa STIE Indonesia Makassar—yang kini menginjak usia 49 tahun—telah mengintegrasikan pendidikan Character Building sejak tahun akademik 2020/2021.
“Dunia pendidikan tidak hanya sebatas transfer ilmu. Ada hal yang lebih utama, yaitu membentuk watak agar lebih santun dalam etika,” ujar Dr. Ilham.
Ia juga dengan bangga mengumumkan bahwa sebagian besar wisudawan kali ini adalah penerima bantuan sosial pendidikan KIP Kuliah. Ini menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam memberikan akses pendidikan bagi siapa saja, termasuk melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang meluluskan 7 wisudawan.
Dengan akreditasi “Baik Sekali” untuk Prodi Manajemen dan persiapan reakreditasi Prodi Akuntansi menuju level internasional, para lulusan dibekali “senjata” lengkap: Ijazah, Transkrip, Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), dan yang terpenting: Integritas.
Gerbang Awal, Bukan Akhir
Wisuda ke-38 STIE Indonesia Makassar ini ditutup dengan sebuah simpulan kuat: Gelar sarjana bukanlah jaminan kepastian, melainkan modal intelektual.
Bagi para wisudawan, hari esok adalah misteri. Mungkin akan ada lamaran kerja yang ditolak, atau rencana bisnis yang gagal. Namun, seperti kisah guru dan pesawat Challenger, atau kisah Andryan yang gagal jadi PNS, wisudawan diajak untuk percaya bahwa setiap “TIDAK” dari dunia, mungkin adalah cara Tuhan mengatakan “SIAP-SIAP” untuk sesuatu yang jauh lebih besar.
Selamat datang di dunia nyata, para petarung muda.
Comment