Mahasiswa Unismuh Makassar Kembangkan Aplikasi Penerjemah Bahasa Isyarat Dua Arah Berbasis AI

Tim mahasiswa Unismuh Makassar tunjukkan pengoperasian aplikasi AmertaSign, penerjemah bahasa isyarat dua arah berbasis kecerdasan buatan (AI).

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM — Selama ini, percakapan sederhana di loket pelayanan publik sering menjadi tembok pembatas tinggi bagi jutaan penyandang tunarungu di Indonesia. Mereka memahami maksud orang lain, namun masyarakat umum kerap kesulitan memahami bahasa mereka. Akibatnya, banyak pesan penting yang tak pernah tersampaikan secara sempurna.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menciptakan solusi digital berupa aplikasi penerjemah bahasa isyarat dua arah bernama AmertaSign. Tim inovatif ini dipimpin oleh Andi Syafiqah Ramadhani, beranggotakan Andi Akbar Arya Putra, Muh Asad Habib, Tiara Nabila Rajab, dan Sri Hasriani. Selain itu, dosen pendamping Chyquitha Danuputri, S.Kom., M.Kom. turut membimbing penuh proyek kreatif ini.

Ketua Tim, Andi Syafiqah Ramadhani, menegaskan bahwa hambatan komunikasi verbal masih membayangi aktivitas harian kelompok disabilitas. Oleh karena itu, AmertaSign hadir agar teman tuli bisa berkomunikasi secara mandiri dan percaya diri di mana saja.

“Kami merancang AmertaSign untuk membantu penyandang tunarungu berinteraksi tanpa hambatan di fasilitas publik, lembaga pendidikan, maupun lingkungan sosial,” ujar Syafiqah saat memberikan keterangan di Kampus Unismuh Makassar, Sabtu (22/8/2026).

Langkah inovatif ini sejalan dengan Permen PANRB Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik Ramah Kelompok Rentan. Aturan tersebut mewajibkan setiap instansi pemerintah menyediakan akses informasi berbasis bahasa isyarat.

Inovasi mahasiswa Makassar ini berhasil meraih pendanaan nasional melalui Program Kreativitas Mahasiswa skema Karsa Cipta (PKM-KC) di bawah naungan Kemendiktisaintek.

Secara teknis, AmertaSign memanfaatkan teknologi canggih MediaPipe Hands. Fitur ini melacak gerakan tangan pengguna secara akurat melalui kamera smartphone. Selanjutnya, kecerdasan buatan (AI) memproses gerakan tersebut menjadi kosakata Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), lalu menampilkannya dalam bentuk teks sekaligus suara lewat fitur Text-to-Speech.

Tak hanya itu, AmertaSign juga bekerja dua arah secara fleksibel. Masyarakat umum dapat berbicara langsung atau mengetik pesan melalui fitur Speech-to-Text. Sistem kemudian mengonversi ucapan tersebut menjadi teks visual yang mudah dibaca oleh pengguna tunarungu. Bahkan, tim pengembang melengkapi aplikasi ini dengan kamus digital BISINDO sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas.

“Kami menyadari AmertaSign merupakan langkah awal dari kampus biru Unismuh Makassar. Namun, karya ini membawa pesan kuat bahwa inklusivitas bisa kita wujudkan secara nyata lewat coding dan teknologi,” tambah Syafiqah penuh optimisme.

Dosen Pendamping, Chyquitha Danuputri, S.Kom., M.Kom., menyampaikan apresiasi mendalam atas kegigihan para mahasiswa bimbingannya. Ia berharap hasil penelitian ini memberikan manfaat nyata dan terus berkembang hingga tahap komersialisasi.

“Kami sangat bangga dan mendukung penuh inovasi ini. Semoga seluruh tahapan pengabdian dan pengembangan aplikasi AmertaSign berjalan lancar serta memberi dampak luas bagi masyarakat,” tutur Chyquitha. (***)


Comment