MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM — Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) mengukir prestasi gemilang melalui inovasi AmertaSign. Aplikasi penerjemah bahasa isyarat dua arah berbasis kecerdasan buatan (AI) ini resmi mengantongi sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum.
Sertifikasi HKI tersebut memicu dukungan penuh dari Fakultas Teknik (FT) Unismuh Makassar. Pihak fakultas langsung memberikan sokongan menyeluruh untuk membantu tim meriset dan mengembangkan teknologi asistif bagi penyandang tunarungu ini.
Ketua Tim PKM-KC AmertaSign, Andi Syafiqah Ramadhani Nasrum, memimpin inovasi ini bersama empat rekannya: Andi Akbar Arya Putra, Muh As’ad Habib, Tiara Nabila Rajab, dan Sri Hasriani. Selain itu, dosen pembimbing Chyquitha Danuputri, S.Kom., M.Kom, terus mengawal jalannya riset dari awal hingga tahap pengujian.
Sejalan dengan pencapaian tersebut, pimpinan FT Unismuh menegaskan komitmennya untuk memfasilitasi riset mahasiswa. Dekan FT Unismuh, Ir. Muhammad Syafaat S. Kuba, S.T., M.T., bersama jajaran wakil dekan dan Ketua Prodi Informatika, Rizki Yusliana Bakti, S.T., M.T., siap mengawal keberlanjutan proyek ini di lingkungan akademik.
Syafiqah menjelaskan bahwa timnya merancang AmertaSign melalui Program Kreativitas Mahasiswa skema Karsa Cipta (PKM-KC). Oleh karena itu, pengembangannya berjalan secara sistematis melalui berbagai tahapan penting.
“Kami memulai dari studi literatur, pengumpulan dataset BISINDO, perancangan sistem, hingga pembuatan prototipe. Selanjutnya, kami melatih model AI dan mengintegrasikannya ke dalam aplikasi,” ujar Syafiqah.
Secara teknis, AmertaSign mengintegrasikan aplikasi mobile, backend Python dan FastAPI, basis data PostgreSQL, serta model AI khusus. Aplikasi ini mengandalkan teknologi MediaPipe Hand Landmarker untuk membaca titik-titik gerak tangan secara presisi.
Setelah mengantongi HKI, tim AmertaSign langsung menggelar uji coba lapangan di SLB Negeri 1 Makassar pada Senin (7/9/2026). Langkah ini bertujuan untuk menguji keandalan sistem sekaligus menyerap masukan dari pengguna secara langsung.
Dalam uji coba tersebut, seorang guru tunarungu, Rachmat Rasyid, beserta dua siswanya, Gadiza Nurma Novianty dan Naufal, menjajal fitur penerjemah gerakan tangan menjadi teks dan suara. Hasilnya, aplikasi ini mampu menerjemahkan instruksi dengan intuitif.
Rachmat Rasyid menyambut hangat hadirnya teknologi ini. Pasalnya, AmertaSign mampu menjembatani komunikasi antara masyarakat umum dan penyandang tunarungu secara alami.
“Aplikasi ini sangat membantu teman-teman tunarungu. Kehadiran AmertaSign membuka ruang komunikasi tanpa batas bagi kami,” ungkap Rachmat, Jumat (11/9/2026).
Sementara itu, Chyquitha Danuputri menegaskan bahwa kolaborasi lintas lini menjadi kunci sukses pengembangan AmertaSign. Ke depan, tim akan terus memoles fitur-fitur aplikasi agar makin responsif dan nyaman digunakan.
Sertifikat HKI dan dukungan kampus kini menjadi pijakan kokoh bagi tim AmertaSign. Langkah ini diharapkan mampu menghadirkan solusi teknologi yang inklusif, mandiri, serta bermanfaat nyata bagi masyarakat luas. (***)
Comment