BONE, BERITA-SULSEL.COM – Terbang menuju Bali pada 21 Agustus pagi, Bupati Bone, Andi Asman Sulaiman bersama rombongan diterima langsung oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dari Kementerian Pertanian, Drh. I Ketut Wirata serta Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT), I Gusti Putu Ngurah Raka dan sejumlah pegawai Kementerian Pertanian.
Dari bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Andi Asman langsung bertolak menuju peternakan sapi milik BPTU HPT yang berlokasi di Pangyangan Kabupaten Jembrana, Bali. Mengenakan APD, Andi Asman melihat langsung kondisi sapi yang ada di peternakan tersebut.
“Wah sapinya besar-besar”, ujarnya setiba kembali di halaman kantor BPTU HPT.
Andi Asman yang sangat menyukai dunia pertanian dan peternakan melihat peluang bisnis yang kedepannya akan menambah pundi-pundi uang masyarakat Bone, khususnya petani ternak. Menurutnya, masyarakat Bone sejak dulu sudah terbiasa beternak sapi, namun sampai sekarang masih menggunakan cara-cara tradisional, sehingga hasil yang diperoleh belum maksimal.
“Kesimpulannya harus diseriusi, di Bone ada yang lebih siap tapi cara perkawinannya harus kita jaga. Ada sapi lahir dengan postur kecil karena turunan dan pakannya. Kita lihat disini sapinya besar-besar. Cara yang kita lakukan hampir sama, tapi tekniknya berbeda, ada penyempurnaan perkawinan agar anakannya sempurna. Kami kesini karena mata pencaharian masyarakat Bone selain padi dan jagung, itu ternak sapi. Kita mau kembangkan sapi Bali”, terang Andi Asman.
Melalui bincang-bincang bersama Bupati Bone, Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT), I Gusti Putu Ngurah, mengatakan saat ini ada 2 lokasi pengembangan ternak sapi, yakni di NTB seluas 504 hektar dan di Bali seluas 102 hektar. Namun sayang, peternakan di Bali belum boleh dilakukan perbaikan infrastruktur karena masih berstatus HGU.
“Kami terkendala infrastruktur karena lahan hanya HGU”, singkat Putu.
Putu melanjutkan saat ini kantornya memiliki sekitar 99 orang SDM, sehingga masih terbilang terbatas. Selain itu, kendala saat ini karena selama 3 bulan terakhir tidak pernah turun hujan, sementara kontur lokasi peternakan berbukit dan dibawahnya adalah bebatuan sehingga kondisi mudah kering.
Sebanyak 10.208 ekor sapi berada di peternakan Bali saat ini. Sebelumnya, Putu mengaku pernah memelihara sapi Bali yang diberi nama Bawor dengan bobot 700 kilogram namun tidak di konsumsi, melainkan dibiarkan hingga mati. Beternak sapi Bali, lanjut Putu, bukanlah hal sulit karena sapi Bali mudah beradaptasi dan bisa hidup dalam cuaca dan kondisi apapun.
“Untuk sekarang karena kemarau, pakannya kami campur dengan konsentrat agar bisa tu7mbuh besar dan lebih cepat. Usia sapi itu kan hanya sekitar 2,5 tahun, jadi kalau ingin tubuhnya lebih besar, itu rumput gajah dicampur dengan konsentrat untuk kebutuhan pakan sapi”, terang Putu.
Diakhir perbincangan, Andi Asman meminta kepada Plt. Kadis Peternakan, Andi Herman, agar ini segera direalisasikan. Andi Asman menegaskan bahwa yang terpenting adalah kualitas sapi, bukan kuantitasnya. Masyarakat Bone yang sudah sejahtera melalui bertani padi dan jagung, diharapkan Andi Asman akan lebih sejahtera ketika bisa beternak sapi Bali.
“Kedepan semoga bisa dapat bibit sapi unggul. Kita juga punya lokasi luas. Kami akan terus komunikasi agar ilmunya bisa diaplikasikan di Bone.
Mohon kami dituntun, didampingi, dipantau dari jauh untuk mengembangkan teknologi ternak sapi”, tutupnya.
Comment