Dari Beijing, Taruna Ikrar Dorong Kemandirian Obat Nasional Bersama Ketua MPR dan Dubes RI

Dari Beijing, Taruna Ikrar Dorong Kemandirian Obat Nasional Bersama Ketua MPR dan Dubes RI

BEIJING, BERITA-SULSEL.COM — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menggelar pertemuan strategis dengan Ketua MPR RI, H. Ahmad Muzani, dan Duta Besar RI untuk China merangkap Mongolia, Djauhari Oratmangun. Pertemuan penting ini berlangsung di sela-sela rangkaian kunjungan kerja BPOM di Beijing, China.

Dalam diskusi tersebut, ketiga tokoh nasional ini membahas secara mendalam isu ketahanan obat dan pangan sebagai pilar utama ketahanan nasional. Oleh karena itu, mereka sepakat bahwa Indonesia harus segera memperkuat kemandirian di sektor farmasi. Langkah strategis ini mencakup penguatan riset, penyediaan bahan baku lokal, peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, penguasaan teknologi, hingga penguatan sistem regulasi.

“Ketahanan obat dan pangan merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Oleh sebab itu, Indonesia harus semakin kuat dalam riset, inovasi, bahan baku, produksi, teknologi, dan regulasi,” tegas Taruna Ikrar.

Memutus Rantai Ketergantungan Impor Farmasi

Selain itu, Taruna menjelaskan bahwa dinamika geopolitik dan perubahan rantai pasok global menuntut Indonesia untuk mandiri. Selama ini, ketergantungan yang tinggi pada bahan baku impor menjadi tantangan besar bagi industri farmasi nasional.

Oleh karena itu, BPOM memanfaat kunjungan kerja ke China ini untuk memfinalisasi nota kesepahaman (MoU) bersama National Medical Products Administration (NMPA) China. Kerjasama ini bertujuan untuk mempercepat transfer teknologi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memperluas kolaborasi riset kesehatan.

Langkah diplomasi regulasi ini juga mendukung arah pembangunan nasional Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada poin kemandirian bangsa, penguasaan sains, dan penguatan industri dalam negeri.

Kiprah Ilmiah dan Peluncuran Buku di China

Tidak hanya menjalankan diplomasi regulasi, Taruna Ikrar juga membawa gagasan ilmiah Indonesia ke panggung dunia. Ia tampil sebagai pembicara pada International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum dan memberikan kuliah pakar di Universitas Tsinghua. Dalam forum tersebut, Taruna memaparkan adaptasi regulasi terhadap teknologi Artificial Intelligence (AI), precision medicine, dan neurosains.

Bahkan, Taruna memanfaatkan momen kunjungan ini untuk meluncurkan dua buku karya terbarunya, yaitu “Dua Tahun Saujana Bhakti Taruna Ikrar” dan “Neuroleadership”. Prosesi peluncuran berlangsung secara unik di Universitas Tsinghua serta di atas kereta cepat rute Beijing menuju Jinan.

Buku pertama merangkum perjalanan dua tahun kepemimpinannya di BPOM RI, termasuk keberhasilan meraih status WHO-Listed Authority (WLA). Sementara itu, buku kedua membahas aplikasi neurosains dan fungsi otak dalam membangun kepemimpinan yang efektif dan adaptif.

Sinergi Tim BPOM untuk Kemandirian Bangsa

Dalam kunjungan kerja tersebut, sejumlah pejabat teras BPOM turut mendampingi Taruna Ikrar, di antaranya:

  • Mohamad Kashuri (Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik)

  • Dr. William Adi Teja (Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif)

  • Dr. Wachyudi Muchsin (Pakar Ahli Bidang Hukum dan Humas)

  • Hj. Nor Andi Arinawati Arsyad (Pakar Ahli Bidang Kebijakan Obat dan Makanan)

  • Dra. Rita Endang (Pakar Ahli Bidang Sediaan Farmasi)

  • Lynda Kurnia Wardhani (Kepala Biro Kerja Sama dan Humas)

Secara keseluruhan, Taruna menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan di China bertujuan untuk mengonversi kerja sama internasional menjadi kekuatan riil bangsa.

“Kita membangun kerja sama bukan untuk memperbesar ketergantungan, melainkan untuk memperkuat kemampuan bangsa sendiri. Tujuan akhirnya adalah kemandirian industri farmasi dan perlindungan menyeluruh bagi masyarakat Indonesia,” pungkas Taruna.


Comment