TP PKK Sulsel Gempur Stunting di 3.060 Desa Demi Generasi Emas 2026

Ketua TP PKK Sulsel Naoemi Octarina Sudirman menyampaikan arahan penting saat peluncuran Aksi Stop Stunting 2026 di Aula Asta Cita Rujab Gubernur Sulsel, Makassar.

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Naoemi Octarina Sudirman, meresmikan Peluncuran Aksi Stop Stunting Tahun 2026. Forum strategis ini berlangsung di Aula Asta Cita, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (3/11/2026). Langkah masif ini mempertegas komitmen bersama dalam mempercepat penurunan angka stunting secara menyeluruh.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru, prevalensi stunting di Sulawesi Selatan masih berada di angka 23,3 persen atau menempati urutan ke-16 secara nasional. Oleh karena itu, Pemprov Sulsel bersama TP PKK langsung mengambil langkah cepat melalui program yang terukur dan berkesinambungan.

Pada tahun 2026 ini, Aksi Stop Stunting menargetkan sasaran luas yang mencakup 3.060 desa dan kelurahan di 24 kabupaten/kota. Untuk menyukseskan agenda besar ini, Naoemi menggerakkan seluruh jajaran TP PKK hingga kader Posyandu terdepan.

Dalam arahannya, Naoemi Octarina menegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan program. Ia meminta setiap instansi menjalankan peran secara optimal agar intervensi gizi langsung menyasar keluarga yang membutuhkan.

“Oleh sebab itu, saya meminta Ketua TP PKK Kabupaten/Kota memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah. Kita harus mengawal anggaran, menjamin logistik, serta memantau capaian lapangan secara ketat,” tegas Naoemi.

Selain itu, ia menekankan pentingnya peran kader PKK dan Posyandu sebagai garda terdepan. Para kader akan mendatangi rumah warga secara rutin, memberikan edukasi gizi langsung, serta mendampingi perubahan pola asuh keluarga.

Selanjutnya, penguatan kapasitas kader menjadi prioritas utama sebelum mereka turun ke lapangan. Pemerintah memberikan pembekalan teknis mengenai penggunaan aplikasi pencatatan, pengisian data, hingga teknik pengukuran anak yang presisi.

Mengenai kendala sinyal internet di wilayah terpencil, Naoemi sudah menyiapkan solusi taktis. Kader dapat mencatat data tumbuh kembang secara manual terlebih dahulu. Setelah itu, petugas khusus (PIC) bersama Dinas Kesehatan akan memasukkan data tersebut ke dalam sistem.

“Dengan demikian, kendala teknis tidak boleh menghambat pelayanan kepada masyarakat. Dukungan fasilitas operasional dari pemerintah daerah sangat kita butuhkan di sini,” tambahnya.

Melalui program ini, TP PKK Sulsel merangkul Forkopimda, Dinas Kesehatan, hingga jajaran RT/RW untuk menyatukan langkah. Peran aktif orang tua dalam menjaga gizi anak dan kebersihan lingkungan juga menjadi tumpuan utama.

“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” seru Naoemi menutup arahannya.

Melalui kerja keras dan kolaborasi solid ini, Aksi Stop Stunting 2026 optimistis mampu mencetak generasi Sulawesi Selatan yang sehat, cerdas, dan siap menyongsong Generasi Emas Indonesia. (*)


Comment