Perspektif Sosial Stunting: Guru Besar UMB Palopo Jadi Narasumber Utama Rakor TPPS Sulsel

Perspektif Sosial Stunting: Guru Besar UMB Palopo Jadi Narasumber Utama Rakor TPPS Sulsel

MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Upaya percepatan penurunan stunting di Sulawesi Selatan mendapatkan suntikan perspektif keilmuan baru. Prof. Dr. Arlin Adam, SKM., M.Si, Guru Besar Universitas Mega Buana (UMB) Palopo, hadir sebagai narasumber utama dalam Rapat Koordinasi Penyusunan Laporan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Semester II yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3A-Dalduk KB) Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Dalton Makassar.

Prof. Arlin, melalui undangan resmi dari DP3A-Dalduk KB, menyampaikan materi berjudul “Perspektif Sosiologi Kesehatan dalam Analisis Data dan Penyusunan Laporan TPPS Semester II” pada Kamis (5/12). Sesi ini dihadiri oleh perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), koordinator TPPS kabupaten/kota, serta sejumlah pemangku kebijakan.

Stunting Bukan Sekadar Gizi

Prof. Arlin menegaskan bahwa stunting adalah fenomena kompleks yang melampaui masalah gizi atau medis semata.

“Data kuantitatif seperti SSGI, EPGBM, dan Regsosek penting, tetapi interpretasinya harus berorientasi sosial. Kita perlu melihat why behind the numbers,” ujarnya.

Menurutnya, stunting sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural sosial, budaya, perilaku kesehatan, relasi kekuasaan, dan konteks komunitas. Pendekatan sosiologi kesehatan diperlukan untuk menganalisis data secara komprehensif, mencakup faktor ketimpangan wilayah, pendidikan ibu, kondisi ekonomi keluarga, hingga praktik budaya yang memengaruhi pola pengasuhan.

Profesor dari UMB Palopo ini memaparkan kerangka analisis berbasis teori-teori sosiologi kesehatan, seperti Determinasi Sosial Kesehatan dan Structural Violence, untuk menjelaskan variasi risiko stunting antarwilayah di Sulawesi Selatan.

Perkuat Laporan Berbasis Konteks Sosial

Lebih lanjut, Prof. Arlin mendorong pemerintah daerah untuk menyusun laporan TPPS yang tidak hanya menyajikan angka, tetapi juga menggambarkan konteks sosial, kearifan lokal, modal sosial, dan memuat rekomendasi lintas sektor yang lebih aplikatif.

Kepala DP3A-Dalduk KB Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Mirna, S.H., M.A.P, menyampaikan apresiasi atas kontribusi keilmuan yang diberikan.

“Perspektif sosiologis ini sangat penting untuk memperkuat perencanaan dan evaluasi kebijakan penurunan stunting di daerah,” kata Andi Mirna dalam sambutannya.

Rakor ini diharapkan menjadi momentum kunci untuk meningkatkan kualitas laporan TPPS, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan mempercepat pencapaian target penurunan stunting di Sulawesi Selatan.


Comment