
MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Indonesia dikenal sebagai negara dengan luas lautan 70 persen dari total luas wilayahnya, sehingga perlu Marine Rescue Drone untuk meminimalkan korban kecelakaan yang terjadi di laut.
Dr Yulian Paonganan atau lebih akran dipanggil Ongen beserta timnya di Indonesia Maritime Institute (IMI) sedang membuat Marine Rescue Drone sebagai salah satu alat penyelamatan korban kecelakaan di laut. Wahana ini berbasis teknologi UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau yang dikenal dengan nama drone.
“Drone jenis ini sudah dikembangkan di Korea dan Amerika Serikat dan banyak digunakan untuk penyelamatan korban di kawasan wisata pantai, kecelakaan kapal laut dan kecelakaan lainnya yang terjadi di laut. Kalau negara lain bisa membuat, kita pun bisa membuat bahkan lebih baik,” kata Ongen, Jumat 31/3/2017
Menurut putra Palopo Toraja kelahiran Batusitanduk, Luwu, Sulsel, 10 Juli 1970 ini, proses pembuatan Marine Rescue Drone ini sudah hampir rampung, diharapkan awal April 2017 sudah bisa diujicobakan dan diharapkan bisa menjadi salah satu alat rescue untuk keselamatan nyawa manusia.
Lebih lanjut Ongen menjelaskan, cara kerja drone jenis ini adalah mengirimkan pelampung ke lokasi korban yang sedang panik dan terombang-ambing di laut secara cepat dan akurat sebelum alat penolong lainnya datang untuk mengevakuasi.
“Drone ini dilengkapi sistem otonom, GPS, dan kamera yang bisa membantu pencarian posisi korban dan segera mengambil tindakan penyelamatan pertama dengan menjatuhkan pelampung yang dibawa drone tersebut, kecepatan dan ketepatan drone ini mampu meminimalisir jatuhnya korban jiwa,” kata Ongen.

Sebelumnya, Ongen sukses mencipatakan drone untuk pengawasan laut. Bahkan karyanya ini secara resmi dibeli Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI untuk digunakan mengawasi wilayah perbatasan.
Drone ciptaan putra kelahiran Batusitanduk, Kabupaten Luwu ini yang dibeli Kemenhan kemampuan yang sudah teruji. Sudah diakui dunia internasional dengan telah mengantongi Sertifikat Kelaikan Udara Militer dari IMAA (Indonesian Military Airworthiness Auhority) Puslaik Kementerian Pertahanan.
Drone yang diperuntukkan untuk perbatasan itu memiliki bentang sayap 4,2m dan untuk ZEE Natuna 6,4 m. Drone itu juga akan membawa payload kamera thermal video untuk surveillance.
Kemudian, drone itu dilengkapi dengan kamera medium format 80MP dan kamera multispektral untuk pemetaan. “Kecanggihan lain dari drone ini adalah mampu take off dan landing di darat serta di air,” kata Ongen, Senin 15 Agustus kemarin.
Tidak hanya itu, kemampuan terbang drone ini bisa mencapai 800 kilometer dengan lama terbang (endurance) 8-10 jam dengan sistem kendali jarak jauh (autonomous system). “Drone ini juga sudah dapat sertifikat uji litbang TNI AL dan sertifkat TKDN 28,01% dari Kemenperin,” bebernya.
Ongen yang tumbuh besar di Kota Palopo ini menuturkan, sejauh ini sudah ada tiga drone pesanan Kementerian Pertahanan yang tengah dikerjakan di Workshopnya, Bandung, Jawa Barat. “Pesanan Kemenhan sebanyak 3 unit sedang dalam proses pengerjaan di Bandung. Rencananya 2 unit untuk perbatasan dan 1 unit untuk pengawasan ZEE Natuna,” katanya.
Keberhasilan Ongen sendiri menciptakan drone itu setelah melakukan riset Drone dengan nama OS-Wifanusa selama hampir 1,5 tahun. Melalui Institute Maritime Indonesia (IMI), dia melakukan riset pembuatan flying boat dan telah membuat prototipe skala 1:3 yang berhasil terbang sempurna.
Comment