
Bachtiar Maddatuang menjuluki dirinya sebagai nahkoda kapal tua. Julukan itu tidak semata-mata hanya nama belaka, nama itu dipilihnya karena beberapa alasan, terkait perjalanan karirnya yang seolah menjadi nahkoda dari sebuah kapal tua, yakni menjadi pimpinan salah satu perguruan tinggi yang fokus dalam bidang ilmu ekonomi.
Pria kelahiran 1981 ini menganggap kampus yang dipimpinnyanya, yakni STIE AmkopMakassar (School of Management and Business) sebagai kapal tua. Menurutnya, kampus yang didirikan tahun 1962 ini merupakan kampus yang sudah sangat lama hadir ditengah masyarakat. Hal inilah yang membuatnya merasa memimpin sebuah kapal tua.
Thiar, sapaan akrab Bachtiar Maddatuang sempat menyelesaikan studi program S1 di STIE Amkop sebelum menjadi ketua . Sejak 2005 lalu merupakan dosen di kampus yang saat ini dipimpinnya. Tak hanya itu, Thiar juga mengajar di kampus STIE Nobel dan sempat membuat sebuah lembaga kajian dan riset untuk kajian ekonomi politik yang bernama Economic Institut.
Thiar menyebutkan, lembaga tersebut merupakan singkatan dari Centre of Political Economic Finance and Business Competition. Di lembaga tersebut ia merangkul sejumlah dosen menjadi tim peneliti untuk mengkaji ekonomi politik pemerintah yang terkaitkan dengan perbankan.
Ia mengakui, dirinya lebih banyak berkecimpung didalam lembaga tersebut. “Sudah banyak kerjasama yang kami, salah satunya saat saya membuat Sulsel Economic Outlook bersama Bank Sulselbar. Selain itu, lembaga ini juga menjadi mitra sejumlah persuahaan milik negera untuk membuat pelatihan maupun penelitian,”katanya
Dalam lembaga itu, Thiar membangun banyak jaringan, ia mempimpin banyak orang. Termasuk 40 dosen dan membina 1.127 mahasiswa. Selain memimpin kaum intelektual seperti magister, doktor dan profesor. “Awalnya saya sempat ragu dan berfikir bagaimana bisa mempimpin puluhan dosen yang memiliki pendidikan tinggi serta ribuan mahasiswa yang memiliki dinamika, alhamdullillah dengan keyakinan dan kepercayaan yang diberikan akhirnya saya menerima amanah tersebut,” katanya.
Perubahan Sebuah Keharusan
Sebagian orang mengalami kesulitan, mereka tahu bahwa mereka harus berubah, sebab menyadari perubahan itu sangat perlu dan penting dilakukan. Hal inilah yang dilakukan Bachtiar Maddatuang ketika diberi amanah untuk memimpin lebih lembaga pendidikan tinggi seperti STIE Amkop.
Pria kelahiran Kolaka, 25 Oktober 1981 ini tahu betul akan beban dan tangantan yang dihadapinya. Bermodal keyakinan bisa memberikan hal terbaik bagi institusi yang membina 1.127 mahasiswa dengan melibatkan 40 dosen melakukan perubahan. Menurutnya, jika ingin maju dan bersaing, maka semua harus berubah dan berkembang.
Itu adalah sebuah keharusan. Untuk menyadari bahwa perubahan itu perlu. “Kita harus berubah, karena kita menyadarinya kondisi saat ini telah berubah. Untuk menyesuaikan dengan kondisi sekitar, kita harus berubah juga,” jelasnya.
Sejak memimpin STIE Amkop, perubahan yang dilakukannya menuai hasil yang cukup baik. Hal tersebut dilakukannya dalam kurun waktu 8 bulan. Tak hanya sistem, visi kampus bukan sebagai sekolah tinggi ilmu koperasi disulapnya menjadi School of Management and Business. “Bukan hanya logo yang kami rubah, tapi juga tujuan kami harus berubah,” ujarnya.
STIE Amkop tak lagi menjadi lembaga pendidikan ilmu koperasi. Bachtiar Maddatuang memiliki visi agar kampusnya menjadi corporate univercity.
“Dengan pendekatan mutu dan bisnis, saya yakini kampus ini bisa menjadi lembaga pendidikan terbaik di Indonesia, khususnya di Sulsel dengan menelorkan sarjana dan magister ekonomi berkualitas,” ujarnya.
Inspirasi dari Buku Karya Reinald Kazali
Untuk menjadikan STIE Amkop menjadi kampus terbaik di Sulsel, Bachtiar Maddatuang tak hanya bermodalkan keberanian. Tapi dari banyak membaca buku dan melihat kisah banyak pemimpin. Salah satu inspirasi itu hadir dari banyak membaca buku.
Hal tersebut bermula ketika Thiar membaca buku yang kisahnya hampir sama dengan kampus yang saat ini ia nahkodai. Dalam buku tersebut, ada sebuah universitas di Amerika yang juga berganti nama setelah dipimpin ketua baru. Buku karya Reinald Kazali banyak memberikan inspirasi baginya untuk memimpin sebuah perguruan tinggi yang menurutnya sama seperti sebuah kapal tua yang di nahkodainya saat ini, yakni STIE Amkop.
Ia menceritakan, dalam buku itu ada sebuah universitas besar dengan ribuan mahasiswa mengalami keterpurukan. Sebab, kampus tersebut hanya menerima perempuan sebagai mahasiswa. Namun, setelah pimpinannya berganti, semua sistem dalam universitas tersebut diubah, kampus tersebut tidak lagi hanya menerima perempuan, namun juga menerima laki-laki sebagai mahasiswa. Dengan banyak melakukan perubahan, universitas tersebut menjadi menjadi lembaga pendidikan terkenal di Amerika Serikat hingga saat ini. Hal itulah yang diharapakan olehnya dapat juga teraplikasi terhadap Kampus yang dipimpinnya.
Biodata :
Nama : Dr Bachtiar Maddatuang
*Tempat Tanggal Lahir : Kolaka, 25 Oktober 1981
*Pendidikan : – S1 STIE Amkop 2004
– S2 Unhas 2007
– S3 Unhas 2015
*Organisasi : – HMI Cabang Makassar
– KNPI Sulsel
– Sekertaris Umum GEMA Makassar
*Alamat : Jalan Cemara Blok C/2
*Istri : Tuti Asriana SE
*Anak : Naisya Sifa Kamila (5 Tahun)
Comment