MAKASSAR – Bakal Calon Gubernur Sulsel, Kolonel Laut Dr. Ir. H. Abdul Rivai Ras, MM, MS, MSi (ARR) menjanjikan kesejahteraan bagi nelayan dan petani bila ia mennjadi gubernur 2018 mendatang. Termasuk para petani garam di Jeneponto, Pangkep dan Takalar yang merupakan kabupatan sentra penghasil garam.
Menurut pendiri Universitas Pertahanan (Unhan) ini, masalah petani garam saat ini adalah kurangnya pertahian pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi kualitas garam yang layak ekspor. “Jadi masalah saat ini, produksi garam petani masih belum baik secara kualitas, sehingga berdampak pada nilai jual yang rendah,” terang alumni Pondok Pesantren IMMIM Putra Modern ini, Kamis (21/4/2016).
Akibatnya, para petani garam belum bisa menikmati hasilnya. Kualitas garam dari petani di tiga daerah itu juga tidak sebaik produk impor. Seperti kadar air yang lebih dari 5% dan kadar NaCl di bawah 95%, sehingga membuat garam lokal kalah bersaing di pasaran dalam negeri sendiri.
Pun teknologi pembuatan garam petani menggunakan alat secara tradisional, sehingga rata-rata petani menghasilkan garam dengan kualitas dan produktivitas yang rendah (kadar NaCl 75-80%).
“Oleh karena itu, pemerintah Sulsel ke depan harus punya solusi yang afirmatif dalam meningkatkan produktivitas dan memajukan petani garam. Tentunya dengan melibatkan atau memberdayakan masyarakat pesisir dalam industri hulu hingga industri hilir,” tegasnya.
“Garam harus masuk dalam rencana pembangunan industri kemaritiman Sulsel ke depan, karena dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah hanya disebutkan target komoditi rumput laut, udang, dan ikan hasil olahan,” kunci doktor politik pertama dari militer ini.
Rivai menjelaskan, potensi Indonesia untuk membuka ladang garam adalah seluas 28.000 hektar. Jika digarap dengan teknologi geomembran dapat menghasilkan 100 ton per hektar setiap musim. Ini semua sebenarnya sudah bisa menutup kebutuhan semua jenis garam dalam negeri. Produksi garam nasional saat ini sendiri telah mengalami surplus 300 hingga 500 ribu ton
Sangat disayangkan, kata Rivai, potensi ini tidak dilirik sama sekali. Indonesia saat ini mengimpor garam terbesar dari Australia (733.000 ton senilai 34,2 juta US dolar), India (189.000 ton senilai 7,89 juta US dolar), dan Jerman (177.000 ton senilai 445 ribu US dolar).
Selain itu, dalam jumlah kecil garam juga diimpor dari Selandia Baru (816 ton senilai 325 ribu US dolar) dan Singapura (663,9 ton senilai 142 ribu US dolar). Volume dan nilai impor garam Indonesia setiap tahun adalah 2.579 ton atau senilai Rp600 miliar lebih setahun. (del)

Comment