BONE, BERITA-SULSEL.COM — Dari hasil pendataan Lembaga Pemberdayaan Perempuan (LPP) ditemukan bahwa di Kabupaten Bone terdapat lebih dari 28 ribu Anak Tidak Sekolah (ATS).
Untuk itu, sejalan dengan program pemerintah “Gerakan Lisu Massikola” yang artinya Gerakan Kembali ke Sekolah, diharapkan mampu mengurangi jumlah tersebut. Bersama dengan UNICEF, LPP akan melakukan sampel di 5 Kecamatan dan Desa yakni Salomekko, Cina, Tellu Siattingnge, Ulaweng dan Ajangale.
Mewakili LPP Bone, A Fatmawati Sulolipu, saat diskusi dengan Yasmib di salah satu Cafe, dikatakan bahwa UNICEF melalui LPP telah melakukan pendataan dan akan mengadvokasi dengan melibatkan Kepala Desa, Kepala Dusun, Kepala Sekolah, Guru dan Babinsa.
“Saat lakukan analisa masalah di desa, ternyata banyak yang putus sekolah karena disabilitas, mereka dibuli oleh teman-temannya dan malu untuk pergi kesekolah” ungkap Fatmawati.
Anak Tidak Sekolah ini mulai umur 7 sampai 18 tahun dan mereka tersebar di semua Desa yang ada di Kabupaten Bone. Dari jumlah tersebut, sebagian adalah disabilitas yang belum diberi kesempatan sama dengan anak normal lainnya.
“Masih banyak kepala sekolah dan guru yang belum paham, mereka pikir ada sekolah khusus disabilitas padahal mereka juga boleh masuk sekolah umum. Ada juga eks penderita kusta yang anak-anaknya tidak diterima disekolah karena dikira penyakit itu akan menular, padahal tidak” tambah Fatmawati.
Untuk disabilitas, (United Nation Childrens Fund) UNICEF berpesan kepada LPP agar diberi perhatian khusus. UNICEF sendiri resmi menjalin kerjasama dengan Indonesis sejak tahun 1950 silam. Bahkan sebelumnya di tahun 1948, UNICEF pernah membantu masyarakat Lombok yang saat itu dilanda kekeringan. (eka)
Comment